Kelompok-kelompok yang Menentang Pasukan Pertahanan Junta Myanmar

Sebuah video upacara kelulusan memperlihatkan ratusan orang berseragam berparade.

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON – Sebuah kelompok yang dibentuk untuk menentang junta militer Myanmar telah menyelesaikan pelatihan tentang kekuatan pertahanan. Mereka merilis video yang menampilkan ratusan orang dalam parade berseragam.

Pemerintah Persatuan Nasional telah mengumumkan akan membentuk Pasukan Pertahanan Rakyat untuk menantang militer Myanmar yang merebut kekuasaan pada 1 Februari. Video upacara kelulusan dirilis pada hari Jumat atas nama Yee Mon, sebagai menteri pertahanan dari kelompok yang menentang junta.

Video tersebut menunjukkan sekitar 100 orang berbaris di lapangan parade berlumpur di hutan. Mereka berbaris dalam seragam kamuflase baru di belakang bendera kekuatan baru, yang berwarna merah dengan bintang putih. Dalam video tersebut, mereka tampak tidak sedang membawa senjata. “Militer ini dibentuk oleh pemerintah sipil resmi,” kata seorang perwira tak dikenal pada upacara tersebut.

“Pasukan Pertahanan Rakyat harus sejalan dengan rakyat dan melindungi rakyat. Kami akan berjuang untuk memenangkan pertempuran ini,” kata perwira tersebut.

Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan untuk meminta komentar. Otoritas militer menyebut Pemerintah Persatuan Nasional sebagai pengkhianat. Mereka juga menyebut Pasukan Pertahanan Rakyat sebagai kelompok teroris.

Hampir empat bulan setelah kudeta, militer Myanmar masih berjuang untuk menjaga ketertiban. Protes anti-militer terjadi setiap hari di sebagian besar negara bagian, dan pemogokan oleh penentang junta telah melumpuhkan bisnis. Selain itu, pertempuran dengan kelompok etnis bersenjata yang menentang junta dan milisi yang baru terbentuk telah meletus di sejumlah daerah.

Dua bom rakitan meledak di kota utama Yangon pada Sabtu (29/5). Outlet berita Mizzima melaporkan bahwa bom tersebut menargetkan pos polisi dan truk tentara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa pasukan junta telah menewaskan lebih dari 800 orang sejak kudeta. Sementara lebih dari 4.000 orang telah ditahan. Pemimpin Junta Min Aung Hlaing mengatakan korban tewas sipil mendekati 300. Dia juga mengatakan sekitar 50 petugas polisi tewas dalam bentrokan itu. Namun, dia tidak menyebutkan angka korban militer.

Pihak militer melakukannya dengan alasan ada kecurangan dalam pemilu. Tuduhan itu ditolak oleh komisi pemilihan. Militer menggulingkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan menjerumuskan Myanmar ke dalam kekacauan.

sumber: Reuters



https://www.republika.co.id/berita/qtw9k5384/kelompok-penentang-junta-myanmar-melatih-pasukan-pertahanan