Kementan Jamin Ketersediaan Hewan Kurban yang Aman

Ketersediaan hewan kurban saat Idul Adha 2021 sebanyak 1.767.522 ekor

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya menjamin ketersediaan, keamanan, dan kelayakan hewan kurban dan daging dalam pelaksanaan ibadah kurban Idul Adha 1442 H yang diperkirakan jatuh pada 20 Juli 2021.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo alias SYL mengatakan ketersediaan hewan kurban selama Idul Adha 2021 sebanyak 1.767.522 ekor yang terdiri dari sapi, kerbau, kambing, dan domba. Mayoritas hewan yang disembelih untuk kurban berasal dari pasokan hewan lokal.

“Dengan tersedianya jumlah hewan kurban, maka kebutuhan hewan kurban saat Idul Adha tahun 2021 dapat terpenuhi,” kata Menteri Pertanian SYL, Kamis (15/7), dalam siaran persnya.

Ia mengungkapkan, Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan stok daging sapi impor, baik daging sapi maupun kerbau untuk kebutuhan daging dan karkas jika diperlukan. Selain itu, pemetaan permintaan daging di seluruh wilayah Indonesia juga dilakukan mulai dari defisit hingga surplus produksi daging.

“Pemerintah siap turun tangan jika terjadi kelangkaan daging di daerah tertentu dengan memobilisasi produksi dari daerah surplus ke daerah defisit,” kata SYL.

Pandemi Covid-19 sedikit berdampak pada penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha 2021. Kementerian Pertanian memperkirakan jumlah hewan kurban pada tahun 2021 akan turun 10 persen dibandingkan tahun 2020, di mana 1.683.354 hewan kurban disembelih. disembelih.

SYL menilai penurunan ini akibat pandemi Covid-19. Selain itu penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. “Melihat kondisi pandemi Covid-19, kemungkinan akan terjadi penurunan pemotongan hewan kurban. Penurunannya diprediksi sebanyak 10 persen,” tambah Mentan SYL.

Mentan SYL juga turun langsung memantau ketersediaan hewan kurban, salah satunya ke Depo 1.000 Sapi Kuban, Bogor, Jawa Barat milik PT Bima Jaya Farm dengan kapasitas 1.000 ekor yang terjual dan 95 persen kurban. hewan yang sudah dimiliki. Kemudian, rumah potong hewan di luar RPH (non-RPH) milik DKM Al Falaah Bogor yang rencananya akan dipotong 12 ekor sapi, masih tercatat untuk kambing/domba.

Kemudian di UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Bogor, Jawa Barat. Di RPH terpadu Bubulak, Kota Bogor, tersedia 770 ekor hewan yang dijual dengan kapasitas potong 200 ekor per hari. “Sesuai perintah Presiden Joko Widodo, para menteri bisa langsung turun ke lapangan untuk mengecek dan memastikan ketersediaan hewan kurban,” kata Mentan SYL.

Sementara itu Wali Kota Bogor Bima Arya menyatakan ketersediaan hewan kurban di Kota Bogor secara umum aman. Dipastikan juga stok tersedia dan pelaksanaan kegiatan kurban di Kota Bogor akan dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan.

“Secara umum ketersediaan hewan kurban di Bogor, safe stock, Alhamdulillah tersedia. Tata cara penyembelihan juga sesuai protokol, penyembelihan diarahkan ke RPH, dan pendistribusian daging kurban akan dilakukan sesuai protokoler. prosedur kesehatan, tidak ada keramaian,” jelas Bima Arya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian Nasrullah mengatakan pihaknya juga akan terus meningkatkan pengawasan teknis kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat. dokter hewan.

Kementerian Pertanian telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 114 Tahun 2014 tentang Penyembelihan Hewan Kurban. Kementerian Pertanian ini menetapkan persyaratan minimal tempat penjualan hewan kurban, transportasi, penampungan, dan tempat pemotongan hewan kurban.

“Selain itu, tata cara penyembelihan hewan kurban dan pembagian daging kurban juga diatur sesuai aspek teknis dan syariat Islam,” kata Nasrullah.

Ia menambahkan, kegiatan kurban tahun ini mungkin tidak jauh berbeda dengan tahun 2020. Pasalnya, kegiatan kurban akan tetap dilakukan di tengah situasi pandemi COVID-19.

Untuk itu, Direktorat Jenderal PKH Kementerian Pertanian menerbitkan Surat Edaran (SE) Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 8017/SE/PK.320/F.06/2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban dalam Wabah Non-Bencana Alam Corona Virus Disease (Covid-19).

SE ini mengatur tentang mitigasi risiko atau tindakan untuk mencegah dan meminimalisir penularan Covid-19 dalam pelaksanaan kegiatan kurban di tempat penjualan dan penyembelihan hewan kurban. SE ini juga mengatur fasilitas pemotongan di luar RPH-R dan di RPH-R.

Mitigasi risiko yang diatur antara lain menjaga jarak minimal 1 meter dan dianjurkan juga jual beli hewan kurban dengan memanfaatkan teknologi online yang dikoordinir oleh panitia. Sedangkan kegiatan penyembelihan hanya dihadiri panitia dan pembagian daging dilakukan panitia ke rumah committee mustahik.

Kemudian, pemeriksaan kesehatan awaltes seleksi) dengan melakukan pengukuran suhu tubuh di pintu masuk. Jika seseorang ditemukan memiliki gejala Covid-19, maka ia akan dilarang masuk ke tempat pelaksanaan kurban.

“Juga wajib ada higiene sanitasi, yaitu petugas di tempat pemotongan dan penanganan daging dan jeroan harus dibedakan. Dan fasilitas CTPS harus disediakan.pensanitasi tangan,” kata Nasrallah.

Selain menerapkan kebersihan sanitasi, penerapan personal hygiene dengan menggunakan masker, pelindung wajah dan sarung tangan juga diperlukan. Selain itu, mencuci tangan, menghindari jabat tangan, dan wajib menggunakan alat pribadi (peralatan sholat, alat makan, dll) juga harus diterapkan.

Kewajiban yang harus diterapkan di rumah potong hewan. Secara khusus daging hewan kurban harus memenuhi persyaratan Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).



https://www.republika.co.id/berita/qwad5l423/kementan-jamin-ketersediaan-hewan-kurban-aman