Kepedulian terhadap Orang Rimba | Republika Online

Tujuan dari program pemberdayaan ini adalah kemandirian dan kesejahteraan Orang Rimba

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Royal Lestari Utama, perusahaan karet alam berkelanjutan melalui anak usahanya PT Lestari Asri Jaya meluncurkan program pemberdayaan masyarakat rimba, Kamis (22/4). Program yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat SAD di Provinsi Jambi ini bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tebo, Pemerintah Provinsi Jambi, dan Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Program yang dirintis sejak 2018 ini menjangkau 3 kelompok Orang Rimba yang tersebar di Desa Semambu dan Desa Pemayungan, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Director of Corporate Affairs and Sustainability PT Royal Lestari Utama (RLU) Yasmine Sagita mengatakan perseroan sedang menyusun rencana kerja untuk pengembangan dan pelibatan Orang Rimba.

“Hari ini kami mencanangkan rangkaian kegiatan sebagai program terpadu, yang lahir dari aspirasi masyarakat rimba itu sendiri dan sekaligus diharapkan berdampak positif bagi masyarakat rimba,” kata Yasmine dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (24/4).

Bersamaan dengan peresmian ini, juga diresmikan pengoperasian Orang Rimba Service Center (OR). Pusat Pelayanan OR yang berlokasi di kawasan Temenggung Hasan Group dibangun atas prakarsa OR sendiri. Nantinya sentra serupa juga akan dibangun di wilayah kelompok Orang Rimba lainnya, yaitu Kelompok Temenggung Buyung dan Bujang Kabut.

Dengan beroperasinya sentra ini, kata Yasmine, warga Orang Rimba akan mendapatkan berbagai manfaat layanan hak-hak dasar secara lebih mudah dan teratur. Adanya Service Center Center membuat kegiatan edukasi anak-anak Orang Rimba menjadi lebih intensif dari sebelumnya. Service Center Hall juga merupakan tempat transit dan peristirahatan Orang Rimba saat keluar dari hutan, seperti untuk berbelanja dan keperluan lainnya.

RLU juga telah membangun Pembibitan Tanaman Kehidupan Orang Rimba yang merupakan bagian dari program mata pencaharian Orang Rimba. “Benih yang dikembangkan adalah tanaman yang digunakan Orang Rimba baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk dijual,” ujarnya.

Pusat pembibitan ini terletak di dalam areal konsesi HTI RLU di Jambi sekaligus sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pengembangan agroforestri Orang Rimba. Pusat pembibitan mencakup area seluas lebih dari 2.000 meter persegi. Saat ini terdapat sekitar 4000 bibit tanaman dengan kapasitas menampung sekitar 6.500 bibit. Tanaman yang dipilih adalah yang dimanfaatkan oleh Orang Rimba, antara lain Jernang, Kelukup, Jengkol, Petai, Durian, Tampui, Mangkok, Cempedak, Kayu Resak, Bedaro, dan Pinang.

“Tujuan jangka panjang dari program pemberdayaan ini adalah untuk mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan bagi Orang Rimba. Kami optimis melalui kerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan, upaya pelestarian kawasan hutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, “kata Yasmine.

Berkat berbagai program sosial dan lingkungan yang berdampak signifikan, pada 22 April 2021, RLU mendapatkan penghargaan Platinum dan Penghargaan Program Bina Lingkungan Terbaik dari Bisnis Indonesia CSR Award (BISRA) 2021 bekerja sama dengan Habitat for Humanity Indonesia. Mewakili perusahaan dalam acara tersebut, GM Public Affairs RLU Arifadi Budiarjo mengatakan selain program Orang Rimba, RLU juga bekerjasama dengan lebih dari 600 petani di sekitar wilayah perusahaan, melalui program pelatihan, kemitraan kehutanan, agroforestri dan pertanian terintegrasi.

Susanto Samsudin, Juri BISRA 2021, menjelaskan platinum merupakan penghargaan tertinggi bagi sebuah perusahaan. Diharapkan program CSR yang dilakukan dapat menjadi inspirasi bagi perusahaan lain. Menurutnya, program CSR akan berjalan dengan baik jika ada komitmen dari manajemen perusahaan, keberadaan organisasi CSR di dalam perusahaan termasuk program, anggaran, dampak terhadap masyarakat dan keberlanjutan program.

Deputi Bidang Perekonomian Kementerian PPN / Bapenas Amalia A Widyasanti mengatakan praktik bisnis berkelanjutan menjadi tren baru di perusahaan global. Berdasarkan survei KPMG, 40 persen dari 250 grup perusahaan global terbesar telah mengadopsi prinsip bisnis berkelanjutan. Sedangkan menurut survei WBCSD, 41 persen perusahaan di 43 negara telah mengintegrasikan SDGs dalam strategi perusahaannya.

“CSR menjadi sarana penting bagi para pelaku bisnis untuk menjalin kemitraan guna mengemban amanah SDGs,” kata Amalia.




Source