Ketahanan Keluarga Benteng Pertahanan Diri dari Penyalahgunaan Narkoba dan Perdagangan Gelap

Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program ketahanan keluarga merupakan salah satu upaya mewujudkan desa bebas narkoba dengan melibatkan aparat desa, relawan dan masyarakat.

Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), Sufyan Syarif mengatakan sinergi seluruh pemangku kepentingan harus dilakukan untuk meningkatkan ketahanan keluarga sebagai benteng pertahanan diri dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Baca juga: Puan Maharani meminta perang terhadap narkoba tidak dilonggarkan meski ada pandemi

“Karena ujung dari masalah narkoba adalah ketahanan rumah, ketahanan keluarga yang berdekatan adalah desa dan kelurahan.

Perlunya mendorong ketahanan masyarakat melalui program berbasis keluarga, misalnya program desa bersinar,” kata Sufyan Syarif saat Media Discussion (Dismed) Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) yang digelar secara virtual bertajuk “Berantas Narkoba Memasuki Desa”, Sabtu (26/6/2021).

Menurutnya, hal ini juga sangat penting untuk mengubah cara pandang atau pemahaman masyarakat tentang narkoba.

Baca juga: Insano dan BNN bersama Polres Pandeglang siap memberantas narkoba

“Karena pandangan masyarakat tentang narkoba masih salah, maka pola pencegahan dan pengendaliannya harus diubah seefektif mungkin secara komprehensif, dan masyarakat perlu bisa memiliki daya tangkal yang lebih kuat,” ujarnya.

Desa merupakan pintu masuk narkotika, terutama desa yang berada di wilayah perbatasan negara dan menjadi sasaran teraman bagi pengedar narkoba.

Baca juga: Kisah Bimbim dan Kaka Slank Bebas Narkoba

Untuk itu, desa harus menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Upaya ini harus segera dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat desa untuk ambil bagian dalam memerangi narkoba.

Berdasarkan pemetaan, jelasnya, terkait penyalahgunaan dan peredaran narkotika di desa-desa mencapai 14,99 persen, dari total desa di Indonesia.

Dikatakannya, ada lebih dari 900 desa yang masuk kategori rawan narkoba dan dari 2.786 desa dan kelurahan terdapat 966 desa yang masuk kategori berbahaya atau rawan narkoba dan 1.820 desa yang dikategorikan waspada narkotika.

“Dari peta itu kita butuh strategi. Kita juga fokus pada masalah desa.

Desa ini merupakan bagian atau sisi terkecil dari pemerintah yang paling efektif dalam menanggulangi (narkotika),” ujarnya.

Sinergi antar lembaga, kementerian dan seluruh pemangku kepentingan di masyarakat juga perlu ditingkatkan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika.



https://www.tribunnews.com/nasional/2021/06/28/ketahanan-keluarga-benteng-pertahanan-diri-dari-penyalahgunaan-dan-peredaran-gelap-narkoba