Ketua PBNU Ungkap Hasil Mendikbud Nadiem Sowan ke Kantor NU

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengunjungi PBNU terkait polemik buku sejarah

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengunjungi kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (22/4). Kedatangan Mendikbud tersebut diterima oleh Ketua PBNU, KH Said Aqil Siroj dan beberapa pengurus PBNU lainnya.

    Ketua PBNU KH Robikin Emhas mengatakan pertemuan itu membahas polemik peredaran kamus sejarah Indonesia yang memicu perdebatan. Apalagi dengan tidak memasukkan sejarah NU dan ulama yang merupakan tokoh penting bagi kemerdekaan Indonesia.

    Dalam pertemuan tersebut, menurut Robikin, PBNU meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berpegang pada prinsip dan metodologi penulisan sejarah sesuai dengan kaidah keilmuan berdasarkan fakta sejarah.

    “Sejarah harus ditulis berdasarkan fakta,” kata Robikin dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (22/4).

    Robikin menjelaskan, secara teknis dan substansial kamus sejarah Indonesia yang beredar memiliki banyak catatan sehingga menimbulkan keributan dan perdebatan di masyarakat. Namun, menurutnya, Nadiem kini sudah setuju untuk mencabut buku yang beredar tersebut.

    “Atas masukan dari PBNU, Mendikbud Nadiem Makarim setuju untuk mencabut naskah lama, dan akan menyusun naskah baru dengan tim yang akan melibatkan ormas seperti NU dan lain-lain,” kata Robikin.

    “Mendikbud Nadiem Makarim menegaskan akan menarik naskah atau publikasi buku yang sudah beredar, mengingat masih banyak kekurangan dan ketidaklengkapan,” imbuhnya.

    Sebelumnya, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid juga mengatakan buku Kamus Sejarah Indonesia yang tidak memuat pendiri NU KH Hasyim Asyhari telah ditarik dari laman Rumah Belajar. Selain itu, buku-buku yang berkaitan dengan sejarah modern juga telah ditarik untuk ditinjau.

    Ia mengatakan, penarikan buku ini dilakukan karena pihaknya ingin memastikan masalah kekurangan pada buku sejarah bisa diselesaikan. “Kami sama sekali tidak ingin ada masalah seperti ini,” kata Hilmar dalam telekonferensi, Selasa (20/4).




    Source