Khawatir dengan mutasi virus Corona Eek

    Kombinasi B117 dan mutasi Eek dapat menyebabkan masalah besar pada penularan Covid-19.

    REPUBLIKA.CO.ID, oleh Antara, Dessy Suciati Saputri, Haura Hafizhah

    Pandemi Covid-19 mungkin berada pada tingkat yang terkontrol di Indonesia. Selama beberapa minggu terakhir jumlah kasus positif Covid-19 telah menurun drastis dibandingkan awal tahun. Tingkat pengisian tempat tidur rumah sakit juga mengalami penurunan.

    Namun, kemunculan varian baru virus corona atau mutasi Covid-19 membuat publik tak gegabah. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan, mutasi virus corona E484K menjadi perhatian karena sifatnya yang lebih menular.

    “Mutasi E484K ini oleh sebagian ahli disebut mutasi Eek yang artinya sesuatu yang mengkhawatirkan dan peringatan. Ini terjadi karena mutasi ini tampaknya berdampak pada respon sistem kekebalan tubuh,” kata Profesor Tjandra, dalam keterangannya, dikutip Jumat (9/1). / 4).

    Eek atau E484K, mutasi virus corona baru pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan (B1351) dan Brazil (B1128), kemudian ditemukan di sejumlah wilayah termasuk Jepang bahkan Indonesia. Pejabat kesehatan Jepang menemukan mutasi ini pada sekitar 70 persen pasien Covid-19 atau 10 dari 14 orang yang dites di rumah sakit Tokyo bulan lalu.
    Sedangkan di Indonesia, mutasi ini masuk sekitar Februari lalu. Mutasi Eek memiliki kemampuan untuk menghindari kekebalan alami dari infeksi Covid-19 sebelumnya dan mengurangi perlindungan yang ditawarkan oleh vaksin saat ini.

    Dengan kata lain, Eek juga disebut mutasi “melarikan diri” karena mengubah bagian dari protein lonjakan virus yang diandalkan sistem kekebalan untuk mengenali dan memulai tanggapan kekebalan. Perubahan ini mungkin berarti menghindari respons imun yang dipicu oleh vaksin atau infeksi sebelumnya.

    Mutasi E484K mengubah protein lonjakan virus asli sehingga lebih mudah untuk mengikat dan membentuk koneksi yang lebih kuat ke sel inang, membuatnya lebih menular. Tjandra mengungkapkan, varian korona B117 jika ditambah dengan mutasi E484K akan membuat tubuh perlu menambah jumlah serum antibodi untuk mencegah terjadinya infeksi.

    “Kita semua tahu bahwa varian B117 terbukti jauh lebih menular, jadi jika bergabung dengan mutasi E484K tentu akan menimbulkan masalah yang cukup besar bagi penularan Covid-19 di masyarakat,” ucapnya.

    Selain itu, lanjutnya, mutasi E484K ini juga tampaknya memperpendek masa kerja antibodi penetral di dalam tubuh. Dengan kata lain, orang akan lebih mudah tertular kembali setelah sembuh dari Covid-19.

    Lebih lanjut, karena pengaruhnya terhadap antibodi, mungkin ada dampak pada kemanjuran vaksin. Tjandra dan pakar kesehatan lainnya masih menunggu hasil penelitian lebih lanjut tentang bagaimana pengaruhnya terhadap kemanjuran vaksin. “Perlu diperhatikan bahwa jika mutasi E484K dan / atau mutasi atau varian baru lainnya memang akan membuat vaksin menjadi tidak efektif, para ahli dan produsen vaksin akan dapat memodifikasi vaksin yang ada agar tetap efektif dalam pengendalian Covid-19,” kata Tjandra.

    Lalu bagaimana dengan pencegahannya? Tjandra merekomendasikan orang untuk tetap berpegang pada protokol kesehatan. Langkah ini harus dibarengi dengan petugas kesehatan yang melakukan pelacakan kontak secara intensif dalam keadaan khusus, kemudian otoritas berwenang memantau kedatangan orang dari luar negeri dan menambah jumlah sekuensing genom utuh untuk menentukan sekuens DNA lengkap.

    Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito pun meminta masyarakat mewaspadai munculnya mutasi virus Covid-19 E484K. Perhatikan penemuan varian Covid-19 bernama E484K yang merupakan mutasi dari varian B117 asal Inggris, kata Wiku saat jumpa pers siang ini, Kamis (8/4).

    Namun, dia meminta masyarakat tidak panik. Upaya pencegahan adalah tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Disiplin prokes menjadi pertahanan utama dalam mencegah penularan virus Covid-19.

    Wiku mengatakan, pemerintah akan terus meningkatkan seluruh pengamatan sekuensing genom untuk memetakan varian Covid-19 yang masuk ke Indonesia dan memperketat proses penyaringan bagi WNA dan WNI yang akan masuk ke Indonesia.

    Pemerintah diminta mewaspadai mutasi Covid-19 Eek dengan strategi penanganan virus yang tepat. Tidak menutup kemungkinan di masa depan berbagai jenis mutasi virus akan bermunculan di Indonesia.

    “Cegah mutasi virus baru, pemerintah harus punya strategi yang kuat. Membatasi orang atau turis dari luar lewat darat, udara atau laut. Yang dari luar negeri juga harus dikarantina selama 14 hari bukan 5 hari. Ini harus dilakukan kalau mau kasus Covid -19 tidak bertambah, ”ujarnya saat dihubungi Republika.

    Kemudian, lanjutnya, dengan banyaknya mutasi virus baru, pemerintah harus segera mengambil langkah untuk melakukan pengujian dan skrining. Jangan anggap remeh dan memperburuk kondisi kasus Covid-19 di Indonesia.

    “Saya sudah berulang kali mengingatkan bahwa kita akan dihadapkan pada mutasi virus baru. Mau tidak mau kita harus bersiap. Kalau lengah, kasus Covid-19 akan meningkat dan banyak yang terancam nyawa. pemerintah bisa melakukannya dengan cepat untuk membuat kebijakan. untuk mutasi baru ini, ”ujarnya.

    Mutasi Eek sudah terdeteksi di Indonesia, tepatnya di DKI Jakarta. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Vektor Menular dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, membenarkan hal tersebut.

    “Ya di wilayah DKI Jakarta,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (5/4).

    Siti Nadia mengatakan pemeriksaan spesimen E484K sudah dilakukan oleh otoritas terkait di Indonesia sejak Februari 2021. “Namun, dia melaporkan (temuan kasus) dua atau tiga hari lalu di GISAID oleh Eijkman Institute for Molecular Biology,” ujarnya saat ditanya saat E484K ditemukan di Jakarta.

    Eijkman adalah lembaga penelitian pemerintah yang bergerak di bidang biologi molekuler dan bioteknologi medis. Lembaga ini berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi. Sedangkan GISAID merupakan organisasi non profit yang bergerak di bidang data banking yang saat ini menjadi acuan data genom virus corona SARS-CoV-2.




    Source