Khazanah Ramadan Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tidur malam yang nyenyak sangat penting bagi kesehatan dan fungsi tubuh manusia sehari-hari. Namun, di bulan suci Ramadhan, mendapatkan kuantitas dan kualitas tidur yang tepat bukanlah hal yang mudah. Seseorang yang berpuasa perlu mengatur pola tidurnya saat berpuasa di bulan Ramadhan.

Namun jangan khawatir, ada tips yang bisa diikuti dari konsultan obat tidur dari RS Burjeel, Abu Dhabi, Supriya Sundaram. Dokter yang berprofesi sebagai dosen di tingkat sarjana dan pascasarjana ini juga pernah menjadi Royal College Tutor di bidang Kedokteran. Ia adalah seorang dokter yang mengkhususkan diri pada kualitas dan kuantitas tidur yang dibutuhkan tubuh manusia.

Dilaporkan pada Khaleej Times, Kamis (22/4), Sundaram memaparkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan kewaspadaan, menyebabkan gangguan mood, dan meningkatkan risiko cedera.

Pengaruh puasa intermiten (konsep puasa delapan jam penuh tanpa makan dan minum) di bulan Ramadhan mempengaruhi tidur juga telah dipelajari secara ekstensif. Tidur memiliki berbagai domain dalam arsitekturnya. Tertidur sambil berbaring di tempat tidur disebut latensi tidur, dan cenderung meningkat selama bulan suci Ramadhan.

Ia mengatakan puasa di bulan Ramadhan juga mengurangi total waktu tidur seseorang. Perubahan penting lainnya yang terlihat selama Ramadhan adalah hormon tidur-bangun Melatonin. Sementara kadar Melatonin menunjukkan gelombang yang sama selama bulan suci Ramadhan, mereka turun secara signifikan dari baseline.

Durasi tidur Rapid Eye Movement (REM) yaitu tidur nyenyak, kata dia, juga mengalami penurunan. Semua perubahan ini lebih dikaitkan dengan perubahan pola makan dan minum daripada perubahan asupan energi. Kurang tidur berdampak pada efisiensi dalam melakukan aktivitas kerja.

“Ditambah dengan kelelahan di siang hari, peningkatan kecelakaan lalu lintas juga dilaporkan karena kurang tidur,” ucapnya.

Kualitas tidur yang baik selama Ramadhan merupakan tantangan utama bagi banyak orang. Sundaram mengatakan beberapa saran termasuk tidur siang yang nyenyak di siang hari layak dilakukan. Namun, tidur siang tidak boleh lebih dari 20-25 menit karena seseorang mungkin tertidur dan bangun dengan perasaan lebih lelah.

Tidur siang, kata dia, biasanya membantu seseorang yang ingin mengemudi jauh sebelum berbuka puasa. Tidur lebih awal setelah berbuka puasa dan memastikan lingkungan yang tenang dan gelap juga membantu meningkatkan kualitas fungsi tubuh.

Ia menambahkan, pola makan juga penting untuk kualitas tidur. Jika makanan berbuka puasa tinggi kalori dan volume, otak dan tubuh akan tetap aktif saat makanan dicerna. Menghindari makanan yang digoreng dan pedas pasti akan membantu. Ini juga dianggap berlaku untuk sahur.

“Karena siklus kafein diubah selama ini, menghindari terlalu banyak kafein akan menjaga kualitas tidur. Minum banyak air sebagai gantinya,” katanya.

Sedangkan bagi seseorang yang bekerja sebagai pekerja shift dan pekerja layanan darurat perlu perhatian khusus dalam mempertimbangkan waktu tidurnya. Mereka, kata Sundaram, mungkin paling terpengaruh selama bulan puasa Ramadhan. Menjaga iman dan menjadi efisien dalam melakukan pekerjaan bersama bisa sangat sulit.

“Jadi mereka butuh dukungan dan pengertian kita. Perencanaan jadwal tidur yang cermat di sekitar jadwal kerja akan memastikan Ramadhan sukses dan sehat,” kata Sundaram.




Source