Khazanah Ramadan Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ada nafsu dan hawa nafsu yang tidak berbuka puasa, seperti menikmati wewangian, melihat sesuatu yang menyenangkan dan halal, mendengarkan dan merasakan. Meski pada dasarnya tidak berbuka puasa saat berada dalam koridor syar’i, namun wajib meninggalkannya.

Hal tersebut dijelaskan oleh Ustaz Ahmad Zarkasih Lc dalam Buku Saku Ramadhan isu Penerbitan Rumah Fiqih.

Ustaz Zarkasih memberikan contoh lain hawa nafsu yang tidak berbuka puasa. Yakni bermesraan antara suami istri. Selama tidak ada air mani atau hubungan seksual, sebenarnya bermesraan tidak membatalkan puasa.

“Tapi harus dibiarkan untuk mendapatkan keutamaan puasa,” kata Ustaz Zarkasih dalam bukunya.

Ustaz Zarkasih juga menjelaskan bahwa jima alias berhubungan seks, meski tidak mengeluarkan air mani, tetap membatalkan puasa.

“Adalah halal bagimu pada malam bulan puasa untuk bergaul dengan istri-istrimu. Itu adalah pakaian untukmu dan kamu adalah pakaian untuk mereka …” (Surat al-Baqarah: 187)

Ustaz Zarkasih menjelaskan, makna yang dapat diambil dari ayat ini adalah bahwa Allah SWT membolehkan manusia melakukan hubungan suami istri pada malam hari di bulan puasa. Sebaliknya, pada saat bulan puasa, hukum dilarang menjalin hubungan suami istri, karena membatalkan puasa.

Ia menambahkan, penjelasannya, keluarnya air mani atau sperma yang disengaja adalah sesuatu yang disepakati oleh para ulama sebagai sesuatu yang membatalkan puasa. Namun keluarnya air mani akan membatalkan puasa jika ada sentuhan dan kehendak.

“Namun jika keluar sperma karena mimpi basah di siang hari, maka puasanya tidak dibatalkan. Karena keluarnya tidak dibarengi dengan sentuhan. Namun, orang tersebut wajib mandi di janabah untuk menghilangkan hadas besar. karena mimpi basah, ”jelasnya.




Source