Khazanah Ramadan Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam B. Prasodjo mengamati fenomena pembelian baju baru untuk Lebaran sudah berlangsung lama. Ia menilai tradisi memiliki makna religius dan budaya yang membuat orang melakukannya.

Imam mengatakan umat Islam yang merayakan Idul Fitri dengan filosofi agama dianggap berhasil lolos dari upaya membersihkan diri selama Ramadhan. Harapannya adalah mendapat pengampunan sehingga pahala bisa terlahir kembali dengan keadaan batin yang alami.

“Dalam situasi ini dirayakan dengan sholat Idul Fitri, saya mohon maaf. Baik Dalam situasi hajatan ini seringkali dilambangkan dengan memakai baju baru sebagai wujud kelahiran kembali atau terlahir kembali ke dunia dalam keadaan bersih, ”ujar Imam kepada Republika, Senin (3/5).

Imam menduga tradisi membeli baju lebaran pada awalnya dilakukan oleh kelompok masyarakat yang kurang mampu. Mereka ingin tampil lebih baik setelah mampu membeli pakaian baru setidaknya setahun sekali.

“Dalam konteks masyarakat yang dulunya terbatas, mungkin mereka punya baju baru setahun sekali karena banyak yang tidak punya cukup uang, disitulah mereka berkesempatan membeli baju baru. Dikombinasikan dengan perayaan keagamaan, mengganti baju lama dengan yang lebih bagus, “kata Imam.

Oleh karena itu, Imam menilai tradisi membeli baju lebaran sarat makna religi dan budaya. Tak pelak, sejumlah orang rela berbondong-bondong membeli baju baru di pasar menjelang Lebaran meski situasi pandemi Covid-19 belum berakhir.

“Tradisi baju lebaran sudah jadi kebiasaan, gitu tidak itu hanya fungsi dari kebutuhan sandang, apalagi untuk kelas menengah bisa beli baju baru lebih dari satu kali dalam setahun, ”kata Imam.

Sebuah video viral pada Sabtu pekan lalu memperlihatkan pengunjung berkumpul bersama saat berbelanja di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Belum ada pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) karena jumlah pengunjung sangat banyak. Sehari kemudian atau pada Minggu, aparat gabungan melakukan pengendalian untuk mencegah penularan Covid-19.

Meski ribuan aparat gabungan dikerahkan, tidak semua kawasan pasar bebas keramaian.




Source