Khazanah Ramadan Republika

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud menjelaskan, pada prinsipnya belanja adalah transaksi pertukaran barang dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan. Seiring perkembangan zaman, berbelanja tidak hanya sekedar menukar barang dengan uang tunai, tetapi uang digital yang berperan sangat penting dalam mendorong perputaran ekonomi.

    “Siklus inilah yang mendorong kegiatan untuk merotasi kegiatan kepada orang lain sebagai ronde rejeki, di setiap tumpukan uang terdapat ronde transaksi hak orang lain yang dapat mendorong rejeki orang lain berubah,” terangnya kepada Republika, Senin (10/5).

    Namun, terlepas dari perannya dalam memperlancar arus perekonomian, tetap tidak disarankan untuk membeli sesuatu secara berlebihan, apalagi dari segi agama, kata Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu. Dibandingkan membuang-buang uang untuk belanja sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, momen Ramadhan harus dimaksimalkan untuk menambah zakat, sedekah, infak dan berbagi dengan sesama, ujarnya.

    “Yang terpenting yang dikeluarkan harus sesuai dengan kemampuan, tidak membesar-besarkan hal yang tidak perlu, karena kebutuhan kita tidak hanya hari ini saja, tapi juga untuk hari esok untuk anak cucu kita. Orang bijak, bijak berbelanja,” ujarnya.

    Hal senada juga diungkapkan Ketua PP Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad yang mengajak masyarakat untuk mendorong semangat berbagi dengan sesama. Guru besar Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ini juga mengingatkan agar tidak berlebihan berbelanja menjelang Lebaran.

    “Belanja kebutuhan lebaran merupakan tradisi masyarakat muslim di negeri ini, namun karena lebaran hari ini kita masih dilanda wabah, maka belanja lebaran harus tetap menjaga tata tertib kesehatan dan membeli sesuatu sesuai kebutuhan, jangan berlebihan, “katanya Republika, Minggu (9/5).

    Kondisi yang masih serba terbatas, kata dia, juga membuat perayaan hari raya ini kurang dari tahun-tahun sebelum Covid-19. Jadi kalau punya rejeki lebih banyak dibanding belanja, alangkah baiknya dimanfaatkan untuk menambah sedekah atau membantu orang yang kesulitan atau terkena pandemi, kata Prof. Dadang menyarankan.

    “Lebaran hari ini umat Islam masih terbatas aktivitasnya dan tidak bisa kemana-mana. Makanya kita harus beli baju baru dan barang baru, padahal banyak tetangga dekat dan jauh, saudara, saudara, yang kekurangan. Alangkah bijak dan baiknya jika kita memprioritaskan membantu mereka sebagai perwujudan ibadah puasa kita satu bulan sekali, ”kata Sekretaris Majelis Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia ini.

    Cara yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan Ramadhan sebagai momen berbagi kebaikan adalah dengan membayar zakat mal sebagai kewajiban, jika sudah mencapai nisab atau batas kewajiban pembayaran zakat. Selain itu, disarankan membayar zakat fitrah di akhir bulan Ramadhan.

    “Selain itu, perbanyak shodaqoh yang merupakan kebajikan di bulan Ramadhon. Terakhir, berikan dukungan kepada anak-anak panti asuhan dan panti jompo terdekat dengan rumah kami,” sarannya.
    Sebelumnya, Wapres Ma’ruf Amin mengajak orang-orang yang banyak diuntungkan untuk berbagi di bulan Ramadhan. Wapres menilai Ramadhan merupakan momen yang tepat bagi masyarakat untuk saling berbagi kebaikan.

    “Mari kita ajak semua yang memiliki manfaat untuk beramal, berbagi, memberi zakat, sedekah dan sedekah karena di bulan Ramadhan banyak orang yang membutuhkan,” ucap Wapres dalam sambutannya di acara Tarhib Ramadhan, Jumat. (9/4) malam.

    Wapres menuturkan, apalagi saat Ramadhan ini masih dalam suasana pandemi Covid-19, perekonomian banyak yang terpuruk. Karenanya, berbagi bisa meringankan penderitaan orang lain.

    Ia juga mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengajak umat bersama para ulama untuk berbuat baik kepada masyarakat dalam suasana yang mengkhawatirkan. Rasulullah juga yang paling dermawan selama bulan Ramadhan.

    Dan karena pahala juga sangat banyak, kebaikan dilipatgandakan, doa juga diterima. Oleh karena itu, sekarang mari kita ajak umat untuk melakukan hal-hal baik tersebut, ”tuturnya.

    “Mari kita jadikan sebagai bulan Ramadhan [sebagai] bulan untuk memohon ampunan Allah. Karena kita menyadari bahwa kita semua tidak bebas dari dosa, kita bukanlah makhluk yang sempurna (dilindungi dari dosa). Juga minta perlindungan-Nya, amal-Nya, karena kita bukan orang yang dijamin [masuk surga], “Kata Wakil Presiden.




    Source