Khazanah Ramadan Republika

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Penderita asma umumnya selalu membawa spray atau inhaler kemanapun mereka pergi. Karena jika sewaktu-waktu penyakitnya kambuh, mereka bisa langsung menyemprotkan semprotan tersebut ke dalam mulutnya.

    Bagi penderita asma, obat ini sangat efektif dalam meredakan nyeri, kesulitan bernafas, hingga nafas berbunyi. Namun, bagaimana hukum penggunaan semprotan ini saat berpuasa?

    Isnan Ansory dalam bukunya Buka Puasa Ramadhan Konsekuensinya, para ulama sepakat bahwa ketika seseorang memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya melalui tenggorokan, padahal benda tersebut tidak wajar untuk dikonsumsi manusia, seperti batu, tanah, bensin, biji-bijian, dan sejenisnya, adalah buka puasa.

    Ini termasuk asap yang tertelan, seperti orang yang merokok secara aktif. Sehingga akibat batalnya puasa tersebut, para ulama sepakat harus berpuasa di hari lain.

    Hanya saja para ulama berbeda pendapat tentang beberapa hal, terkait masuknya sesuatu melalui rongga mulut, apakah bisa berbuka atau tidak. Seperti penggunaan semprotan asma untuk orang yang sedang berpuasa.

    Para ulama berbeda pendapat, apakah obat asma yang biasa disemprotkan untuk penderita asma ke dalam mulut bisa membatalkan puasa atau tidak.

    Beberapa ulama kontemporer seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Muhammad al-‘Utsaimin, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, Haitsam Khayyath, Syekh Abdullah al-Bassam, Syekh Faishal Maulawi, Ahmad al-Khalil, dan Lajnah Dai’mah li al- Ifta ‘Kerajaan Arab Saudi percaya bahwa obat asma yang disuntikkan ke dalam mulut tidak membatalkan puasa.

    Sedangkan menurut beberapa ulama kontemporer lainnya, seperti Syekh Muhammad al-Mukhtar as-Sulaami (Mufti Tunisia), Syekh Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Syekh Wahbah az-Zuhaili, Syekh Taqi al-‘Utsmani, dan Syekh Fadhl Hasan’ Abbas , berpendapat bahwa obat asma yang disemprotkan ke dalam mulut dapat membatalkan puasa.




    Source