Khazanah Ramadan Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ramadhan kedua saat pandemi kali ini tentu berbeda dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kondisi Ramadhan diisi dengan karantina, Ramadhan kali ini diwarnai dengan beberapa fenomena spiritual, medis dan politik.

Bagi warga AS, Karim Amin (43 tahun), Ramadhan tahun ini membawa peningkatan spiritual dan kreatif yang tak terduga. “Rasanya tidak enak berada di sekitar Muslim tahun lalu, tetapi sekarang kami melakukan banyak hal luar biasa,” kata pengusaha dan aktivis Baltimore itu.

Misalnya keajaiban salat lewat Zoom, membaca Alquran bersama kerabat yang lebih muda, dan pawai mobil Idul Fitri. Karena Ramadhan dimulai pada Selasa besok, Amin menghadapi beberapa masalah, seperti memutuskan untuk menunaikan shalat tarawih di masjid dan berbuka puasa di luar.

Ia takut jarak jemaah terlalu dekat. Yang jelas, dilemanya adalah bagaimana membuat Ramadhan tahun ini bermakna.

“Saya sedikit takut. Semangat saya lebih kuat tahun lalu. Yang saya miliki hanyalah buku, kata-kata, dan pikiran saya sendiri. Saya benar-benar bisa kembali ke intinya,” kata Amin.

Menurut Amin, fenomena yang terjadi tahun lalu membuat makna Ramadhan semakin spiritual. ‚ÄúSemua yang Anda baca di dalam Alquran terjadi. Karantina cepat bulan April, kerusuhan di jalanan, dan drama pemilihan nasional. Tahun lalu lebih spiritual dan saya berharap kami bisa kembali ke sana, “katanya.

Masjid Dar al-Hijrah biasanya dipadati 1.000 jamaah setiap malam selama Ramadan. Namun, karena wabah itu, para ulama harus memikirkan solusinya.




Source