Khazanah Ramadan Republika

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi umat Islam untuk diberi pahala yang semaksimal mungkin. Salah satunya dengan memahami Alquran. Namun ada kendala yang biasa terjadi pada wanita muslimah yaitu menstruasi. Terkadang haid membuat wanita muslimah tidak bisa menghafal Alquran.

    Pembimbing Penerapan Alquran Indonesia (IQRA) Ustadzah Rifa mengatakan, wanita muslimah bisa mengaji dengan baik di bulan Ramadhan. “Faktanya tidak Sulit untuk mengaji di bulan Ramadhan, selama kita bersungguh-sungguh. Kami harus punya tekad yang kuat, ”kata Ustadzah Rifa saat dikonfirmasi Republika, Rabu (14/4).

    Ia membocorkan tipsnya berdasarkan pengalaman pribadi yang bisa dicoba. Pertama, jadilah kuat. Sebaiknya, sebelum Ramadhan tiba, kita sudah memiliki niat yang kuat untuk menghafal Alquran dan melindunginya sepanjang Ramadhan. Pasalnya, terkadang di tengah bulan, niat tersebut suka berubah.

    Kedua, luangkan waktu untuk mengaji. “Luangkan waktu ya jangan cari waktu luang. Karena kalau menunggu waktu luang kadang kita suka banyak alasan. Jadi sebaiknya aturlah waktu kita mengaji secara rutin setiap hari,” ujarnya.

    Terakhir, identifikasi waktu menstruasi Anda. Setiap wanita memiliki masa haid yang berbeda-beda, ada yang tiga hari, lima hari, tujuh hari, bahkan sepuluh hari. Namun Ustadzah Rifa mengambil waktu haid yang paling umum bagi wanita, yaitu tujuh hari.

    “Misalnya dalam sebulan ada tujuh hari haid, artinya tinggal 23 hari lagi untuk mengaji. Jadi dari 23 hari, bagaimana kita bisa menunaikan 30 juz ngaji,” ujarnya.

    Jika dihitung, 23 hari berarti setidaknya dalam sehari seseorang bisa membaca satu seperempat juz. Artinya, 25 halaman sehari. Ini bisa dibagi lagi di setiap waktu shalat, seperti setelah shalat Subuh, Zuhur, dan hingga Isya. Dengan begitu, satu seperempat juz bisa habis dibaca dalam sehari.

    Namun, bagi orang yang memiliki jadwal padat dan tidak memungkinkan pengajian setelah setiap shalat, dapat diatur dengan melihat poin kedua. “Jadi, cari celah di mana kita punya waktu yang bisa kita masukkan ke dalam program pengajian,” ujarnya.

    Dia memberi contoh Subuh dan Isya bada. Hal ini dikarenakan setelah Subuh dan Isya bada biasanya ada kegiatan rutin yang akan dijalani. Selanjutnya, kami harus berkomitmen untuk dua kali membagi satu dan seperempat juz.

    “Jadi intinya, dengan satu atau lain cara kita bisa menyelesaikan pengajian satu seperempat juz,” katanya.




    Source