Kisah Kiai Wahab dan Bung Karno di Balik Halal Bihalal

Pencetus Halal Bihalal adalah Kiai Wahab di depan Bung Karno

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Umat ​​Islam Indonesia memiliki tradisi yang baik (halal bihalal) setelah berpuasa selama satu bulan penuh. Ada tradisi bagus di Indonesia yang tidak ada di negara lain.

“Halal bihalal merupakan tradisi kreatif masyarakat muslim Indonesia karena adat ini hanya ada di negeri ini,” kata Dra Hj Udji Asiyah dalam bukunya Dakwah Cerdas Ramadhan, Idul Fitri, Walimatul Haji dan Idul Adha.

Menurutnya, halal bihalal ini merupakan cerminan dari ajaran Islam yang mengedepankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling kasih sayang. Fenomena halal bihalal menjadi budaya baru yang baik. “Budaya saling memaafkan, saling berkunjung dan berbagi,” ucapnya.

Hj Asiyah mengatakan, tradisi khas bangsa Indonesia ini akhirnya menjadi simbol yang mencerminkan bahwa Islam adalah agama yang toleran, yang mengedepankan pendekatan hidup rukun dengan semua agama.

Perbedaan agama bukanlah tanda permusuhan dan kecurigaan. “Tapi hanya sebagai sarana untuk saling bersaing dalam kebajikan,” ucapnya.

Rasulullah SAW berpesan, siapa yang membawa kebaikan diikuti orang lain, maka Allah SWT akan menganugerahkan pahala bagi mereka. Dari Ibn Mas’ud RA itu Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرٍ فَاعِلِهِ “Barangsiapa menunjukkan kebaikannya pada seseorang, dia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR Muslim).

Bung Karno dan Kiai Wahab

Penggagas istilah halal bihalal adalah Kyai Abdul Wahab Hasbullah, dalam memoar KH Saifuddin Zuhri yang bertajuk “berangkat dari pesantren” serta penuturan KH Dr Masdar Farid Mas’udi (pondoktermas.com 2015) bahwa setelah Indonesia merdeka di 1945 tahun 1948 Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa.

“Para elite politik itu saling adu mulut, tidak mau duduk di satu forum, sedangkan pemberontakan terjadi dimana-mana, termasuk DI / TII PKI Madiun,” ujarnya.

Pada tahun 1948 di pertengahan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke istana negara untuk dimintai pendapat dan nasehatnya dalam mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian KH Wahab berpesan agar Bung Karno mengadakan silaturahmi, karena sebentar lagi Idul Fitri, di mana semua umat Islam diatur untuk silaturahmi. Mendengar usul tersebut, Bung Karno menyela dan membantah pendapat KH Wahab. “Biasanya saya mau istilah lain,” kata Bung Karno.

Dengan tegas KH Wahab menjawab, “Gampang. Begini Bung. Para elite politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu dosa. Dosa itu haram, jadi tidak ada dosa itu. harus dilegalkan. ”

Jadi, kata KH Wahab, mereka harus duduk satu meja untuk saling memaafkan hafalan satu sama lain. Sehingga kita akan menggunakan istilah halal bihalal untuk keesokan harinya.

Atas usul KH Wahab, Bung Karno pada hari raya Idul Fitri saat itu mengundang seluruh tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri arisan bertajuk halalbihalal itu. Dan akhirnya mereka bisa duduk di satu meja, sebagai Bapak baru untuk mengatur kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itu instansi pemerintah yaitu masyarakat Bung Karno mengadakan halalbihalal yang kemudian diikuti oleh masyarakat luas khususnya masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut ulama.

Jadi Bung Karno bergerak melalui instansi pemerintah sedangkan KH Wahab mengerahkan warga dari bawah. “Jadilah halal bihalal sebagai rutinitas dan aktivitas budaya di Indonesia saat hari raya Idul Fitri seperti sekarang,” ujarnya.

Namun, kata Hj Asiyah, istilah halal bihalal, sebenarnya diciptakan oleh KH Wahab dengan analisis pertama. “Halal Thalabu Bi Tariqin Halal” sedang mencari solusi untuk masalah atau mencari hubungan yang harmonis dengan memaafkan kesalahan.

Atau dengan analisis kedua “halal yujza’u bi halal” Adalah pelepasan rasa bersalah juga dibalas dengan pelepasan rasa bersalah dengan saling memaafkan. “Dan ini juga bukti nyata bahwa halal bihalal adalah produk asli Indonesia,” ucapnya.




Source