Kisah Pedagang Bunga Kesepian Akibat Larangan Ziarah

    Biasanya pedagang bisa mendapatkan Rp. 400 ribu sehari menjual bunga.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kebijakan larangan haji kuburan dikeluhkan pedagang bunga dan mawar di Taman Makam (TPU) Karet Bivak Umam, Jakarta. Taryu (45 tahun), pedagang bunga dan mawar yang sudah 10 tahun berdagang di sekitar TPU Karet Bivak selama 10 tahun, mengaku terkena dampak kebijakan tersebut.

    “Sudah terpengaruh. Sekarang saya punya modal. Setelah kaya modal ini saya bingung,” kata Taryu saat ditemui. Republika.co.id, Kamis (13/5).

    Wanita yang tinggal di Petukangan ini mengaku bingung karena bunga yang dijualnya sepi pembeli. Hingga pukul 10.00 WIB, dia baru menerima Rp. 20 ribu rupiah. Saya bingung sekali. Modal kemarin hampir Rp 400 ribu. Bisa pinjam modal, kemudian (pikirnya) pulang tapi ternyata seperti ini ngenes jadi saya, “katanya.

    Ia berharap kebijakan tersebut segera berakhir. Selain merugikan para pedagang, Taryu mengaku turut berduka cita kepada keluarga yang hendak menunaikan ibadah haji namun dilarang oleh aparat setempat.

    “Orang-orang sampai mengemis di sana tidak bisa masuk. Miskin juga. Setiap tahun kita harus berziarah ke orang tua kita agar ada waktu sholat bukan? Rasanya sayang sekali bagi mereka yang ada di kuburan, “katanya.

    “Jangan terlalu lama (larangan haji) saya minta kaya. Kita ini sebagai manusia tidak punya usaha bisa satu liter, kalau begini serasa kita saja, ”harapnya.

    Harapan serupa juga disampaikan Sani (50 tahun). Biasanya dia mendapat Rp. 300 ribu sampai dengan Rp. 400 ribu. “Sedih (sekarang) tidak ada pemasukan, ”kata Sani.

    Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengatakan kuburan haji dihapuskan saat Idul Fitri 1442 Hijriah. Semua tempat pemakaman umum di wilayah Jabodetabek akan ditutup untuk jemaah haji. Ziarah ke kuburan akan ditutup kecuali untuk kegiatan pemakaman.




    Source