Kisah Pengusaha Bertahan di Masa Pandemi

    Kuncinya antara lain sinergi, kolaborasi, dan digitalisasi.

    REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Agrianita IPB University dan Alumni IPB University Angkatan 32 berkolaborasi menggelar talkshow bertajuk “Menjawab Tantangan untuk Bertahan dan Berkembang” sebagai bagian dari Agrianita’s Craft & Food Festival (ACFF) 2021. Talkshow tersebut dipandu oleh Shahnaz Haque, Sabtu (25/9) menghadirkan tiga pembicara yaitu Arto Biantoro yang merupakan brand aktivis, Frida Nursanti yang merupakan brand aktivis pemilik dari Frida Aulia, dan pemilik Rumah Que Que, Chairu Fariandini.

    Dalam situasi pandemi saat ini, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu pilar kebangkitan ekonomi Indonesia. Frida Nursanti dan Chairu Fariandini adalah contoh pelaku UMKM yang tidak hanya berhasil bertahan dari pandemi tetapi juga berhasil mengembangkan usahanya.

    Frida Nursanti dan Chairu Fariandini sama-sama mengaku di awal pandemi bisnis mereka mengalami penurunan yang cukup signifikan. Meski begitu, Frida bersyukur para pelaku UMKM banyak mendapat dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun swasta.

    “Kami melakukan sinergi dan kolaborasi, sehingga tahun ini kami berhasil memulihkan lima gerai kami yang pada awal pandemi harus ditutup,” kenang Frida dalam rilis yang diterima. Republika.co.id.

    Diakuinya, proses pemulihan kondisi bisnis agar kembali normal membutuhkan banyak usaha.

    Sementara itu Fariandini mengatakan bahwa di era sekarang ini digitalisasi merupakan suatu keniscayaan. Oleh karena itu, dibutuhkan kemauan yang besar untuk terus beradaptasi dan belajar. Di masa pandemi, pesanan yang awalnya dilakukan secara langsung atau offline kini berpindah ke platform online.

    Dikatakannya, bagi pelaku UMKM muda yang sudah akrab dengan perangkat digital tentu bukan hal yang sulit. Namun, pelaku UMKM di Indonesia berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, sehingga proses digitalisasi dapat mengalami kendala.

    “Saat ini banyak tempat bagi para pelaku UMKM untuk menimba ilmu. Pelatihan untuk UMKM banyak, tinggal aktif mengikuti pelatihan dan bergabung dengan komunitas UMKM,” kata Fariandini.

    Selain kreatif, proaktif, dan memiliki kemauan untuk terus belajar, menurutnya membangun pola pikir yang benar dalam menjalankan UMKM juga penting.

    Arto Biantoro mengatakan kewirausahaan dapat memberikan solusi masa depan jika pola pikir yang dibangun adalah kapitalisme sadar atau kapitalisme gotong royong.

    Pola pikir gotong royong kapitalisme memiliki makna bahwa motivasi dalam mengembangkan usaha bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri. Namun, dalam rangka menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan di lingkungan sekitar, bahkan mengembangkan perekonomian daerah.

    “Contoh nyata penerapan kapitalisme gotong royong adalah jika pemasok tidak mampu memenuhi tuntutan kita, langkah yang diambil adalah tidak segera memutuskan kemudian mencari pemasok lain. Tapi berusaha membantu menyelesaikan masalah yang dialami pemasok,” jelasnya.

    Ia mengatakan, berdasarkan hasil penelitian, pelaku usaha yang menerapkan prinsip ini memiliki keuntungan berlipat karena memiliki pemasok yang loyal.

    Arto Biantoro juga menjelaskan bagaimana membangun brand untuk memiliki pelanggan yang loyal. Ia menjelaskan langkahnya menjadi KeRaP Cinta yang merupakan singkatan dari Know, Taste, Understanding, and Love.

    “Membuat iklan produk hanya mampu memberikan kesan keakraban kepada konsumen. Namun jika upaya dilakukan dengan melibatkan interaksi dengan konsumen sehingga mereka tahu betul apa yang dibutuhkan konsumen. Dari situ akan dibangun keterikatan antar konsumen. dan merek agar konsumen menjadi lebih loyal terhadap produk yang ditawarkan,” jelasnya.



    https://www.republika.co.id/berita/qzzl05374/kisah-para-entrepreneur-bertahan-di-masa-pandemi