KLHK melepaskan hewan yang dilindungi dari penangkaran

    Rilis untuk menambah pemahaman dan pengetahuan terkait perlindungan hewan

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berhasil melepasliarkan satwa liar kembali ke habitatnya, di kawasan tersebut. Resor Sungai Penuh di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Selasa (22/6).

    Satwa yang dilepasliarkan terdiri dari tiga ekor Siamang (Symphalagus syndactylus), dua kukang (Nycticebus coucang), satu Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis), dan satu Tapir (Tapirus indicus) yang merupakan hasil penyerahan warga Jambi yang telah direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (TPS) Balai KSDA Jambi. Sedangkan burung murai batu (Copsychus malabaricus) sebanyak 20 ekor merupakan hasil penangkaran binaan Balai KSDA Jambi.

    Dalam kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (jalan menuju HKAN), Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Anang Sudarna menyampaikan pelaksanaan kegiatan pelepasan satwa bertema “Hidup Dalam Harmoni dengan Alam: Melestarikan Satwa Liar Milik Negara.

    Pelepasan satwa ini dapat menjadi langkah awal yang baik dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi media untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan terkait perlindungan habitat dan satwa Indonesia, serta meningkatkan partisipasi dan peran aktif masyarakat dalam upaya keanekaragaman hayati di Indonesia.

    “Kami mengajak semua pihak untuk peduli terhadap pelestarian keanekaragaman hayati untuk mendukung kehidupan masyarakat yang lebih baik,” kata Anang dalam keterangan pers, Rabu (23/6).

    Lebih lanjut, Anang mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kerjasama kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan pelepasan satwa di Taman Nasional Kerinci Seblat-Jambi sehingga berhasil menyelamatkan satwa liar tersebut.

    Sementara itu, Kepala Balai KSDA Jambi Rahmad Saleh menjelaskan, seluruh rangkaian kegiatan mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku serta pemeriksaan kesehatan dengan tetap mengikuti teknik pelepasan di masa pandemi Covid-19. Satwa liar tersebut juga dinyatakan sehat dan layak untuk dilepasliarkan ke alam bebas.

    “Sebelum dilepasliarkan ke alam, satwa tersebut menjalani proses pembiasaan terlebih dahulu di lokasi pelepasliaran. Ini sebagai upaya memperkenalkan habitat baru satwa liar tersebut di alam sebelum dilepasliarkan ke alam liar,” jelasnya.

    badan konservasi dunia, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), termasuk siamang (Symphalagus syndactylus), kukang (Nycticebus coucang), dan Tapiro ( Tapirus indicus ) ke dalam Status Terancam Punah (EN) atau terancam punah. Untuk Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis) dan Murai Batu Stone (Copsychus malabaricus) menjadi Least Concern (LC) atau risiko rendah.
    Sementara CITES (Konvensi Internasional Perdagangan Satwa Liar Spesies Langka) termasuk Siamang (Symphalagus syndactylus), Kukang (Nycticebus coucang), dan Tapir ( Tapirus indicus ) ke dalam lampiran I dan Kucing Hutan and (Prionailurus bengalensis) atau murai batu (Copsychus malabaricus) ke dalam lampiran II.

    Acara terselenggara berkat keterlibatan berbagai pihak antara lain Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Balai TNKS, Pemerintah Kota Sungai Penuh, Kerinci Dandim, Balai KSDA Jambi, FFI, peternak Murai Batu, tenaga pers, dan pihak Saka Wana. Bakti Pramuka dibantu oleh Balai Besar. TNKS.



    https://www.republika.co.id/berita/qv7221423/klhk-lepasliarkan-satwa-dilindungi-hasil-penangkaran