KONI Hibah Kasus Penyalahgunaan, 110 Saksi Diperiksa

    KONI Tangerang Selatan diduga melakukan kegiatan fiktif dengan kerugian negara sebesar Rp 700 juta.

    REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG – Kejaksaan Negeri Tangerang Selatan (Kejari Tangsel) mengusut dugaan penyalahgunaan hibah Komite Olahraga Nasional (KONI) 2019 dari Kota Tangsel senilai Rp 7,8 miliar. Setidaknya 110 saksi telah diperiksa untuk dimintai keterangan terkait kasus tersebut.

    Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejaksaan Tangerang Selatan, Ate Quesyini Ilyas, mengatakan, berdasarkan data awal, ada 65 saksi yang diperiksa dari wilayah yang dikunjungi petugas KONI Tangsel. Selain itu, ada 45 saksi dari cabang olahraga yang berada di bawah KONI Tangsel.

    Artinya ada 110 saksi yang sudah menjalani pemeriksaan, kata Ate saat jumpa pers di Kejaksaan Negeri Tangsel, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel, Provinsi Banten, Kamis (8/4).

    Selain memeriksa ratusan saksi, penyidik ​​Kejaksaan Negeri Tangsel juga melakukan penggeledahan di kantor KONI Tangsel, Kamis. Pencarian dilakukan untuk menemukan dokumen asli terkait dugaan penyalahgunaan dana hibah terkait.

    Dalam penggeledahan, penyidik ​​memperoleh beberapa alat bukti berupa 130 eksemplar dokumen yang terdiri dari surat pertanggungjawaban penggunaan dana hibah, kuitansi, bukti pembayaran, dan unit komputer.

    Ate menjelaskan, pemeriksaan yang dilakukan saat ini masih penyelidikan umum dan belum ada tersangka yang terungkap. Setelah mengumpulkan keterangan dari para saksi dan memperoleh sejumlah dokumen penting, maka akan dilanjutkan ke penyidikan khusus. “Mungkin saja ke depannya kami akan melakukan penyelidikan khusus dan siapa yang akan menjadi tersangka.”

    Menurut Ate, penyidikan kasus dugaan penyalahgunaan hibah KONI Korsel berawal dari dugaan sejumlah kegiatan tidak dilakukan. Sedangkan laporan pertanggungjawaban diduga fiktif.

    Perhitungan sementara menunjukkan kegiatan yang diperhitungkan secara fiktif sebesar Rp 700 juta. Negara juga menderita karenanya. Selain itu, ada dugaan lain berupa pemotongan dana hibah dan perjalanan dinas fiktif ke beberapa daerah kunjungan, antara lain Jawa Barat, Batam, dan Kepulauan Riau.




    Source