Korea Selatan Mengurangi Ketergantungan Ekonomi pada China

    Korea Selatan ingin memperkuat kerja sama ekonomi dengan Indonesia.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Korea Selatan (Korsel) berupaya mengurangi ketergantungan ekonomi pada China. Salah satunya dengan memperkuat kerja sama ekonomi dengan Indonesia.

    Anggota Advisory Group of Presidential Committee on New Southern Policy Korea, Prof Wongi Choe menjelaskan, melalui New Southern Policy Plus Framework, Korea Selatan berupaya untuk mendiversifikasi ekonominya dan menyelaraskan ekonominya dengan negara-negara berkembang di Asia Tenggara guna menyuntikkan sumber dinamisme dan pertumbuhan ekonomi. baru dalam ekonomi Korea.

    Dalam hal ini, Seoul melihat banyak peluang untuk memperluas perdagangan dan investasi dengan ekonomi yang dinamis ini. Negara-negara di ASEAN dinilai memiliki banyak kesamaan ekonomi dengan Korea dan memiliki potensi masa depan yang cerah.

    Faktanya, perdagangan bilateral dua arah dengan Asia Tenggara telah berkembang begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir sehingga 10 negara anggota ASEAN sebagai grup menjadi mitra dagang terbesar kedua Korea setelah China pada 2019.

    “NSP bertujuan untuk mendiversifikasi ekonomi dan meminimalkan risiko. Jadi, jangan menaruh telur dalam satu keranjang.” kata Prof Wongi Choe dalam pembukaan Jejaring Wartawan Indonesia Next Generation di Korea, Jumat (9/4).

    Motivasi lain untuk diversifikasi ekonomi yang lebih besar terkait erat dengan kebutuhan strategis Seoul untuk mengurangi kerentanan eksternalnya, yang berasal dari ketergantungan ekonominya yang besar pada China.

    China saat ini menyumbang lebih dari 27 persen dari total volume perdagangan Korea, dan ketergantungan yang berlebihan pada perdagangan ini telah menjadi sumber pemaksaan ekonomi di China yang dimulai pada 2016. Melihat hal tersebut, Prof. Choe menilai bahwa kebijakan diversifikasi ekonomi ke Asia Tenggara adalah sebuah langkah. Baik.

    “China memang memiliki tenaga kerja yang murah, dan banyak perusahaan Korea telah membuka pabrik di sana. Tapi sekarang kami lebih kompetitif dengan China, terutama karena Korea memiliki riset yang potensial dan mampu.” dia menjelaskan.

    Hal inilah yang mendasari banyaknya investasi Korea yang masuk ke Indonesia. Melalui kerja sama Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA), Korea Selatan saat ini menjadi investor asing terbesar kelima di Indonesia.

    Direktur Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri Santo Darmosumarto menjelaskan, saat ini terdapat 5.468 proyek hasil kerja sama Korea Selatan-Indonesia yang telah menciptakan sekitar 102 ribu lapangan kerja.

    “Indonesia juga merupakan eksportir terbesar ke-12 Korea Selatan, dengan nilai 7,6 miliar dolar AS.” kata Orang Suci pada kesempatan yang sama.

    Sementara itu, pandemi Covid-19 telah menghambat pertumbuhan ekonomi kedua negara. Perdagangan bilateral turun 30 persen dari US $ 19,9 miliar pada 2019 menjadi US $ 13,9 miliar pada 2020.

    Ekspor Indonesia turun 13,9 persen pada 2019-2020. Namun, menurut Santo, kerja sama ekonomi kedua negara masih berada dalam zona aman dengan surplus 1,28 miliar dolar AS pada 2020.

    “Indonesia sudah mengekspor 20 persen produk komoditasnya ke Korea Selatan. Namun perlu diversifikasi produk yang lebih berkelanjutan dan bernilai tambah,” kata Santo.

    Selain itu, Indonesia juga mendorong kerja sama kedua negara di bidang ekonomi untuk lebih fokus pada infrastruktur UMKM kedua negara, serta mengembangkan startup menjadi the next unicorn company.




    Source