KPK Periksa Walikota Tanjungbalai Syahrial

Walikota Tanjungbalai telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendatangkan Wali Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, M Syahrial (MS) ke Gedung KPK, Jakarta. Syahrial segera menjalani pemeriksaan.

Sebelumnya pada Kamis (22/4), Syahrial bersama penyidik ​​KPK Stepanus Robin Pattuju (SRP) dan Maskur Husain (MH) selaku kuasa hukum diumumkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pejabat negara terkait penanganan kasus Wali Kota Tanjungbalai 2020- 2021. “Hari ini tim penyidik ​​KPK membawa tersangka MS Walikota Tanjungbalai, Sumatera Utara, ke Jakarta,” kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (24/4).

Ali mengatakan, tersangka Syahrial sudah tiba di gedung KPK, Jakarta. “Tim penyidik ​​KPK akan segera melakukan pemeriksaan dan perkembangannya akan kami informasikan lebih lanjut,” kata Ali.

Dalam pembangunan kasus tersebut, disebutkan bahwa Stepanus dan Maskur sepakat untuk membuat komitmen dengan Syahrial terkait penyidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjungbalai agar tidak ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyiapkan dana sebesar Rp. 1,5 miliar. Syahrial menyetujui permintaan Stepanus dan Maskur dengan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik Riefka Amalia / pribadi atau teman Stepanus dan juga Syahrial memberikan uang tunai kepada Stepanus hingga total uang yang diterima Stepanus adalah Rp 1,3 miliar.

Pembukaan rekening bank oleh Stepanus dengan nama Riefka telah disiapkan sejak Juli 2020 atas inisiatif Maskur. Setelah uang diterima, Stepanus kembali menegaskan kepada Syahrial dengan jaminan kepastian penyidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjungbalai tidak akan ditindaklanjuti oleh KPK. Dari uang yang diterima Stepanus dari Syahrial, dia kemudian memberi Maskur Rp. 325 juta dan Rp. 200 juta.

Selain itu, KPK menduga Maskur dan Stepanus tak hanya menerima uang dari Syahrial. Maskur juga diduga menerima uang dari pihak lain sekitar Rp. 200 juta, sedangkan Stepanus dari Oktober 2020 hingga April 2021 juga diduga menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama Riefka sebesar Rp. 438 juta.

KPK akan menyelidiki penerimaan uang dari pihak lain. Atas perbuatannya, Stepanus dan Maskur diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12B UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) 1 KUHP, sedangkan Syahrial adalah diduga melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a. atau b atau Pasal 13 UU Pemberantasan Korupsi.

sumber: Antara




Source