Kre Alang dan Sentra Kerajinan Khas Sumbawa Terkena Dampak Pandemi

Sumbawa Besar, Gaung NTB – Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Sentra ekonomi kreatif  dan kerajinan tangan (handycraf) khas Sumbawa seperti tenun Kre Alang, kerajinan (ukiran) serta sentra industri fasion (busana) adat terkena dampak pandemi Covid 19. “Bukan hanya daya beli yang menurun, tapi kesempatan untuk mengembangkan usaha juga terkendala,” Demikian disampaikan Kepala Dinas Koperasi dan Perindustrian Arif MSi kepada Gaung NTB kemarin.

Menurutnya, pengrajin tenun ada 370 orang dibeberapa desa pusatnya Desa Poto dan ada sentranya di Dusun Semeri, karena tidak ada even produk itu tidak ada yang beli. Begitu pula dengan kerajinan ukiran tidak terbeli dan mengendap, masyarakat saat pandemi memilih membeli kebutuhan pokok antara lain beras, telur, sayur mayur,minyak goreng, gula, dan kebutuhan primer lainnya.

Bahkan, pemasaran berbagai brand kopi khas Sumbawa juga mengalami pengurangan karena café dan kedai banyak tutup.

Sedangkan, dari usaha konveksi menjahit ada sekitar 38 home industri beralih ke produksi masker tetapi produknya tidak tercover oleh program pemerintah seperti jaringan pengaman sosial untuk memakai jasa mereka sehingga barangnya dijual secara mandiri.

Lebih jauh, pihaknya telah mendorong pelaku UMKM untuk pasarkan produknya melalui online, aplikasi dan platform digital agar tetap bertahan saat krisis.

“Mereka ada yang buat aplikasi sendiri, ada juga yang pasarkan lewat pameran virtual, dan melalui akun media sosial, serta ada pula pemasaran lewat member platform digital seperti Bukalapak, Shopee, Lazada, Tokopedia dan lain-lain karena yang bertahan saat pandemi adalah mereka yang melek teknologi,” ujarnya.

Masih sedikit segmen UMKM yang melek teknologi sementara bagi pelaku ultra mikro pemasaran produknya hanya melalui mulut ke mulut atau jualan langsung.  

Disebutkan, produk yang bertahan hanya pada segmen tertentu seperti pangan dan sembako, namun tidak semua juga, karena pangan bentuk jajanan atau usaha catering juga rugi, tidak ada pemesanan kue atau nasi karena perkantoran tidak ada rapat, tidak ada even, bahkan pemasaran di gerai/toko juga dikembalikan karena barangnya tidak laku.

Lebih jauh ia menjelaskan, untuk menolong sektor UMKM dari terpaan pandemi Covid-19, pemerintah telah mengeluarkan lima skema. Pertama, Bantuan Langsung Tunai (BLT), Kartu Prakerja untuk UMKM yang masuk kategori miskin dan kelompok rentan. Kedua, pemberian insentif perpajakan bagi pelaku UMKM yang omzetnya masih di bawah Rp 4,8 miliar per tahun. Ketiga, pemberian relaksasi dan restrukturisasi kredit UMKM dengan berbagai program.

“Keringanan yang diberikan antara lain dalam bentuk penundaan angsuran dan subsidi bunga penerima KUR, kredit ultra mikro, dan sebagainya tetapi itu hanya bersifat sementara karena tahun depan mereka juga dihadapkan pada tagihan sehingga apabila mereka tidak cepat bangkit lakukan berbagai upaya untuk penyelamatan atau menabung dari hasil penjualan saat pandemi ini maka tahun depan mereka tidak bisa bayar tagihan pinjaman bank,” pungkasnya. (Gks)

Tags: kre alang