KSAD: Penelitian Sel Dendritik Berbeda dengan Uji Klinis Vaksin

Penelitian menggunakan sel dendritik dilakukan dengan metode imunoterapi di RSPAD

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Riset berbasis layanan yang menggunakan sel dendritik untuk meningkatkan kekebalan terhadap SARS-CoV-2 atau Covid-19 dikatakan berbeda dengan uji klinis Vaksin Nusantara. Hasil penelitian ini tidak memerlukan izin edar karena tidak akan diproduksi secara massal.

“Judul yang dipilih berbeda. Jadi penelitian ini merupakan penelitian berbasis layanan yang menggunakan sel dendritik untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap SARS-CoV-2 atau Covid-19,” kata Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa, di Markas Pomdam Jaya, Selatan. Jakarta, Selasa (20/4).

Penelitian tersebut, kata dia, tidak menghasilkan vaksin seperti yang dilakukan sebelumnya di RSUD Kariadi, Semarang. Menurut Andika, penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Tentara Pusat (RSPAD) lebih sederhana daripada yang dilakukan terkait Vaksin Nusantara.

“Tidak ada kaitannya dengan vaksin, jadi tidak perlu izin edar karena menggunakan metode autologous dan tidak ada produksi massal sehingga tidak perlu izin edar,” kata Andika.

Penelitian menggunakan sel dendritik dilakukan dengan metode imunoterapi di RSPAD yang memiliki Cells Cure Center. Fasilitas di Cells Cure Center menggunakan teknologi Jerman dan baru hadir di Rumah Sakit Angkatan Darat pada tahun 2017.

“Teknologinya dari Jerman. Kami mengirim tim ke sana selama enam bulan untuk memperdalamnya dan hingga 2019, kami akan dikawal selama dua tahun dari tim teknis Jerman di operasi Cells Cure Center di RSPAD sehingga RSPAD memiliki kemampuan untuk lakukan itu, “katanya.

Menurut Andika, fasilitas tersebut sebelumnya digunakan untuk mengobati penyakit kanker. Ia optimistis fasilitas tersebut dapat digunakan untuk mempelajari sel dendritik untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap SARS-CoV-2.

“Bisa ini jalan? Ya saya yakin bisa dan pemerintah sudah titipkan kepada kita padahal bukan untuk komersial, jadi tidak perlu izin edar dari BPOM,” ujarnya.




Source