LABANGKA – LUNYUK DIJADIKAN PILOT PROYEK GEMAJIPI Tarunawan : Optimis 1 Juta Ton Jagung Dihasilkan

    Sumbawa Besar, Gaung NTB
    Kendati baru seumur jagung program Gerakan Masyarakat Jagung Integrasi Sapi (Gemajipi) yang diluncurkan Pemda Sumbawa melalui dua Dinas terkait (Dinas Pertanian dan Dinas Peternakan) Sumbawa, namun program tersebut boleh dibilang sudah mulai menunjukkan hasil dan bahkan dua Kecamatan Potensial yang berada di wilayah Timur dan Selatan Sumbawa yakni Kecamatan Labangka dan Lunyuk kini dijadikan pilot proyek program Gemajipi tersebut, sehingga kedepan diharapkan akan jadi percontohan tidak saja ditingkat regional tetapi juga nasional, ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Tarunawan S.Sos SP dalam keterangan Persnya kepada Gaung NTB diruang kerjanya Senin (05/11) kemarin.
    Dijelaskan, yang namanya Gemajipi itu merupakan sebuah program kolaborasi antara Dinas Pertanian dan Dinas Peternakan terutama dalam melakukan integrasi tanaman jagung dengan ternak sapi, dan program Gemajipi ini terutama tanaman jagungnya dinilai sudah berjalan dengan baik, dimana dari sisi areal lahannya terus bertambah dari tahun ketahun, bahkan dalam tahun 2017 lalu dengan luas areal lahan tanam jagung sekitar 97.000 Ha dengan jumlah produksi yang dihasilkan mencapai sekitar 625.000 ton jagung sehingga bisa dilakukan eksport ke Philipina, dimana program Gemajipi ini agar ada hubungan yang saling menguntungkan antara Pertanian dan Peternakan (Simbiosisme Plasma).
    Kami punya jagung, disamping nanti dijual dalam bentuk biji kata Tarunawan akrab pejabat senior Pemda Sumbawa ini disapa, juga sebagian kita eksport ke Philipina dan negara-negara lainnya, kemudian ada limbahnya berupa daun dan batang yang masih banyak dibakar dan dibuang, karena itu dengan program Gemajipi ini maka semua limbah itu dimanfaatkan untuk pakan ternak, dan semenjak program Gemajipi ini diluncurkan itu sudah ada, karena program ini tidak mungkin menyebar keseluruh Kecamatan yang ada didaerah ini sehingga perlu ada pilot proyek yang dijadikan percontohan, apalagi menyangkut soal produksi limbah yang lumayan besar, bayangkan saja untuk satu kilogram biji jagung itu minimal bisa menghasilkan 1 Kg limbah dan bahkan bisa lebih, karena itu pengolahan limbah jagung harus dilakukan dengan baik sebab dapat dimanfaatkan bagi kepentingan akan ketersediaan pasokan bagi pakan ternak yang dipadukan dan dikombinasikan dengan tanaman hijau lainnya.
    Tarunawan juga menjelaskan, untuk program tahun 2018 target Gemajipi khusus dibidang pertanian, untuk tanaman jagung kita sudah tanam jagung seluas 125.000 Hektar dengan target prokduksi jagung tahun ini optimis akan dapat diraih hasilnya 1 Juta ton dan data riel pastinya baru akan diperoleh pada awal tahun 2019 mendatang, meskipun ada ganggung cuaca dan iklim yang ektrim kemarau panjang melanda daerah ini, dengan potensi yang cukup luas dan besar bagi areal tanaman jagung meliputi Kecamatan Labangka diatas 15.000 Ha, Empang, Plampang, Tarano, Lunyuk, Moyo Hilir dan Moyo Utara, termasuk Kecamatan Alas dan Buer bagian barat Sumbawa walau areal lahannya terbatas, ujarnya.
    “Untuk memanfaatkan potensi produksi limbah jagung yang besar itu, maka Pemerintah juga telah memprogramkan yang namanya bantuan stimulan untuk motivasi kepada masyarakat, dengan memberikan mesin pencacah limbah seperti di pilot proyek Labangka dan Lunyuk, dengan hasil limbah jagung itu dipadukan dengan tanaman Lamtoro yang ditanam dilokasi lahan pilot proyek, sehingga dapat menggugah bagi masyarakat lainnya untuk dapat mengembangkan dan mengelola limbah jagung itu menjadi sebuah pakan ternak yang potensial guna menunjang pengembangbiakan ternak, begitu pula bantuan stimulan ternak juga telah disiapkan sebanyak 250 ekor ternak sapi dari Kementerian Pertanian melalui Dirjen Peternakan yang akan diberikan kepada kelompok petani ternak dalam bulan Nopember ini untuk dapat memberikan ransangan bagi kelompok peternak dalam pengembangan peternakan kearah yang lebih baik kedepan,” pungkas Tarunawan S.Sos SP.