Laporan: Kebebasan Beragama Sino-Myanmar Terburuk

China dan Myanmar mencatat pelanggaran terburuk kebebasan beragama

REPUBLIKA.CO.ID, VATICAN – Pelanggaran kebebasan beragama semakin meningkat dan penganiayaan telah terjadi di lebih dari 25 negara. Menurut Laporan Kebebasan Beragama di Dunia, China dan Myanmar memiliki catatan pelanggaran kebebasan beragama terburuk.

Laporan Kebebasan Beragama Dunia 2019-2020 mengatakan bahwa, di beberapa negara seperti Niger, Turki, dan Pakistan, prasangka terhadap agama minoritas membuat penduduk setempat menyalahkan mereka atas pandemi Covid-19 dan akses ke bantuan medis.

Laporan setebal 800 halaman itu diluncurkan oleh Aid to the Church in Need International (ACN), sebuah badan amal Katolik sedunia yang mempelajari pelanggaran kebebasan semua agama.

Laporan tersebut menempatkan 26 negara dalam kategori merah yang menunjukkan adanya penganiayaan. Sedangkan dua tahun lalu, hanya 21 negara yang mendapat kategori merah.

Selain itu, 36 negara masuk dalam kategori oranye yang menunjukkan diskriminasi. Jumlah negara dalam kategori oranye meningkat dari 17 dua tahun lalu. “Telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam keparahan penganiayaan dan penindasan bermotif agama,” kata laporan itu.

Laporan tersebut menyoroti pelanggaran kebebasan beragama di China dan Myanmar. Pelanggaran paling mengerikan telah terjadi terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, di mana kekejaman telah mencapai skala sedemikian rupa sehingga semakin banyak ahli yang menggambarkan mereka sebagai genosida.

Laporan ACN mengatakan hierarki Katolik di China terus mengalami pelecehan dan penangkapan. Ini sering terjadi meskipun ada perjanjian penting yang ditandatangani pada 2018 antara Beijing dan Vatikan tentang pengangkatan uskup di China daratan.

Reuters melaporkan tahun lalu bahwa dua biarawati yang bekerja pada misi Vatikan di Hong Kong ditangkap ketika mereka pergi ke China daratan untuk berkunjung. China meningkatkan penggunaan pengenalan wajah di semua komunitas agama.

Laporan ACN juga menyoroti pelanggaran kebebasan beragama di Myanmar. Laporan itu mengatakan Muslim Rohingya telah menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia yang paling mengerikan.

Masih menurut laporan tersebut, kudeta militer pada 1 Februari kemungkinan akan memperburuk keadaan bagi semua agama minoritas di Myanmar, termasuk sekitar 8 persen penduduk yang beragama Kristen.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa Afrika akan menjadi medan pertempuran berikutnya melawan kelompok ekstremis. Kelompok ekstremis menyebabkan kekacauan di beberapa negara termasuk Mauritania, Mali, Burkina Faso, Niger, Nigeria, Kamerun utara, Chad, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Somalia dan Mozambik.




Source