LaporCovid-19: 265 Pasien Meninggal Saat Isoming Di Rumah

Koordinator Analis LaporCovid-19 mengatakan setidaknya 265 pasien meninggal selama Isoman I

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dalam sebulan terakhir meningkat seiring dengan melonjaknya jumlah kasus positif Covid-19 kembali. Selain pasien yang meninggal saat dirawat di rumah sakit, banyak masyarakat yang melaporkan ratusan kematian anggota keluarga atau koleganya di rumah selama menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Koordinator Analis Twitter LaporCovid-19, Yerikho Setya Adi mengatakan, berdasarkan data, diketahui sedikitnya 265 pasien Covid-19 meninggal dunia saat melakukan isolasi mandiri di rumah. Data tersebut disusun berdasarkan hasil penelusuran tim LaporCovid19 di media sosial seperti: Indonesia, berita on line dan laporan langsung warga ke LaporCovid-19.

“Mereka meninggal dalam isolasi mandiri di rumah, saat berusaha mencari fasilitas kesehatan, dan saat mengantri di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit. Kematian di luar fasilitas kesehatan ini baru terjadi pada Juni 2021 hingga 2 Juli 2021,” ujarnya. dikatakan seperti dalam pernyataan tertulis yang diterima Republika.co.id, Sabtu (3/7).

Yerikho mengatakan 265 korban jiwa itu tersebar di 47 kota dan kabupaten dari 10 provinsi, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Lampung, Kepulauan Riau, Riau, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sedangkan provinsi yang mencatat kematian di luar rumah sakit cukup banyak adalah Jawa Barat dengan 97 kematian dari 11 kota/kabupaten.

Temuan provinsi dengan sebaran tertinggi berada di Jawa Tengah, dimana kejadiannya terjadi di dua belas kota/kabupaten. Jericho melanjutkan, angka tersebut tentu tidak mewakili kondisi yang sebenarnya di masyarakat, karena tidak semua orang melaporkannya ke LaporCovid-19, media sosial, atau diberitakan oleh media massa.

“Kami khawatir ini merupakan fenomena puncak gunung es dan harus segera diantisipasi agar tidak terjadi lagi korban jiwa di luar fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Jericho menambahkan, kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah mengabaikan pemenuhan hak atas kesehatan warganya di masa pandemi, sebagaimana dijamin oleh Undang-Undang Karantina Kesehatan no. 6 Tahun 2018. Ditambahkannya, undang-undang ini menjamin bahwa selama masa pandemi, setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

Hal ini juga merupakan bagian dari pelanggaran hak asasi manusia yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah untuk memperkuat fasilitas kesehatan dan sumber daya tenaga kesehatan, harus ada pembatasan mobilitas yang ketat untuk mencegah terus meningkatnya angka penularan kasus yang akan meningkatkan risiko kematian.

Selanjutnya, demi keakuratan dan kelengkapan data, Tim Pelaporan Covid-19 membutuhkan dukungan laporan dari masyarakat Indonesia di berbagai daerah dalam pendataan ini. “Bagi yang ingin melaporkan kematian pasien Covid-19 di luar fasilitas kesehatan, bisa melaporkannya ke Laporan Kematian Covid-19,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Tim Pelaporan Data Covid-19 Said Fariz Hibban menambahkan, fenomena meninggalnya pasien Covid-19 merupakan potret nyata runtuhnya fasilitas kesehatan yang membuat pasien Covid-19 sulit mendapatkan akses. pelayanan medis yang tepat. “Situasi ini diperparah dengan komunikasi risiko yang buruk, yang menyebabkan beberapa orang menghindari pergi ke rumah sakit dan memilih untuk mengisolasi diri,” katanya.



https://www.republika.co.id/berita/qvnwfd354/laporcovid19-265-pasien-meninggal-saat-isoman-di-rumah