Lawan Paham Radikal, Gemawa Gelar Dialog Publik

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Maraknya aksi radikalisem yang dilakukan kelompok tidak bertanggung jawab, tentunya dapat memecah belah persatuan bangan Indonesia. Terlebih lagi paham radikal ini mulai mengakar dan merambah kalangan pemuda sebagai generasi penerus bangsa.
Menurut Dewan Pembina Gerak Samawa, Handono, tentunya hal tersebut menjadi masalah besar yang perlu dihadapi bersama. Berkaca dari inilah Lembaga Gerak Samawa (Gemawa) menginisiasi penyelenggaraan Dialog Public dengan tema Penguatan Pemuda Sebagai Agen Pemersatu Bangsa Dalam Melawan Bahaya Paham Radikal.
Kegiatan yang di pusatkan di Aula Hotel Sutan Sumbawa, Kamis (26/10), sekaligus untuk memperingati hari Sumpah Pemuda yang Ke-28. Selain menghadirkan sejumlah nara sumber kata Handono, kegiatan ini juga diikuti para mahasiswa, pelajar dan pengurus OSIS.
Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, H Burhan SH, MH, saat membuka kegiatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa sejarah membuktikan peran generasi muda atau pemuda dalam konteks perjuangan dan pembangunan dalam kancah sejarah kebangsaan Indonesia, sangatlah dominan dan memegang pranan sentral baik perjuangan yang dilakukan secara fisik
Namun demikian belakangan ini, di era global, faham-faham radikal mulai merambah ke tanah air. Karena itu radikalisme kini menjadi ancaman nyata bagi generasi muda di tanah air, termasuk di Kabupaten Sumbawa. “Sekarang kita dengan mudah mengakses teknologi dari berbagai tempat, kemudahan berkomunikasi dengan fasilitas media social juga menunjang pergaulan antar manusia. Hal ini juga menjadi wadah bagi penyebar paham radikal untuk menyasar kaum muda melalui media social maupun media online lainnya,” ujarnya.
Pemuda juga sambungnya, menjadi sasaran empuk bagi tersebarnya faham radikal, karena sifat pemuda yang kadang masih labil dan belum memiliki prinsip yang kokoh dalam hidupnya. Sebagian pemuda juga masih dalam proses pencarian jati diri. Hal itulah yang membrikan peluang bagi para agen paham radikal, untuk mengajak pemuda bergabung menjadi bagian dari kelompok mereka. “Sesuai dengan tema besar dialog public ini penguatan pemuda sebagai agen pemersatu bangsa dalam melawan paham radikal, maka nilai-nilai Sumpah Pemuda menjadi penting untuk direvitalisasi kembali, sehingga berbagai macam ppelajaran di dalamnya dapat kita petik, mulai dari persatuan, kebangsaan dan semangat juang yang dimiliki,” tandasnya.
Sementara itu, akademisi muda, DR Lahmuddin Zuhri, MHum, dalam materinya menyampaikan pemuda adalah pegubah zaman, yang memberikan dobrakan terhadap tirani. Bahkan berperan besar pada revolusi orde lama dan orde baru. Kekuatan pemuda besar dan gerakannya yang cepat itulah yang membuat pemuda kuat. “Paham radikalisme adalah paham yang anti Pancasila. Melaksanakan Pancasila adalah keharusan bagi setiap warga Negara dan khusunya pemuda, karena idiologi Pancasila tersbutlah yang mampu menangkal radikalime itu,” kata Lahmuddin Zuhri.
Sedangkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Kesbangpoldagri) Kabupaten Sumbawa, H Yahya Adam, BA, dalam materinya mengajak peserta sebagai pemuda untuk menjunjung tingggi program pemerintah. Jika pun ada kebijakan pemerintah yang tidak pas, seluruh lapisan harus bersama-sama mengingatkan pemimpin dalam membangun bangsa, khususnya Kabupaten Sumbawa.
Dalam dialog ini juga hadir Ketua DPD KNPI Kabupaten Sumbawa, Alwan Hidayat, S.Pd.I, yang memaparkan peran pemuda dalam mewujudkan Indonesia. Menurutnya, untuk menjadi Indonesia yang maju adalah semangat pemuda.
Di tempat yang sama Dandim Sumbawa, yang diwakili Danunit Intel Kodim 1607/Sumbawa, Ichsan Mansuri, menyatakan Bangsa Indonesia yang penuh dengan kemajemukan, penuh dengan perbedaan suku, budaya dan banyak Bahasa. Tetapi semuanya bisa bersatu dan inilah yang membuat bangsa lain iri dengan Indonesia.
Dijelaskannya, hasil intelejen TNI dan Polri, bahwa untuk menghancurkan bangsa Indonesia memerlukan biaya yang besar, sehingga proxy war, propaganda dengan menghancurkan generasi muda menjadi senjata ampuh untuk melumpuhkan Indonesi. “Di Cina ada salah satu daerah yang memproduksi 1 ton heroin perhari. Namun dilarang keras untuk dikonsumsi, sehingga tidak menutup kemungkinan Indonesia menjadi target pasar penjualan barang yang banyak merusak masa depan pemuda,” tegasnya.