Legislator Dorong Kulon Progo Bentuk Satgas Ibu Hamil

    REPUBLIKA.CO.ID, KULON PROGO – Anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta, Nur Eny Rahayu mengimbau pemerintah daerah membentuk satuan tugas pengawasan ibu hamil guna mengantisipasi tingginya angka kematian ibu dan bayi. di wilayah ini, agar tidak terulang seperti kasus tahun 2020 di Kecamatan Nanggulan dan Samigaluh.

    Nur Eny Rahayu mengatakan ibu hamil harus diawasi secara ketat, agar kasus kematian ibu saat melahirkan pada tahun 2020 di Kulon Progo tidak terulang kembali. “Kami sangat prihatin dengan kasus kematian ibu pada tahun 2020. Kami minta pada tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Kesehatan membentuk satgas untuk memantau ibu hamil,” kata Eny di Kulon Progo, Senin (19/9). 4).

    Ia juga menyayangkan petugas kesehatan atau bidan tidak menangani perawatan ibu dengan baik. Seharusnya, kasus kematian ibu tidak akan terjadi jika dilakukan pemeriksaan secara rutin dan terpantau dengan baik.

    “Kematian ibu sangat menyakitkan bagi kami, karena kami juga perempuan yang tahu bagaimana perjuangan saat melahirkan. Ke depan, kasus kematian ibu tidak akan terulang kembali. Begitu juga dengan kematian anak harus benar-benar ditekan dengan baik,” kata Fraksi PKB. anggota.

    Sekretaris Daerah (Sekda) Kulon Progo Astungkara mengatakan pada tahun 2020 terjadi kematian ibu melahirkan di Kecamatan Samigaluh dan Nanggulan. Keduanya disebabkan oleh sindrom disfungsi multi-organ (MODS), yang merupakan kondisi kehamilan komorbid yang serius.

    Sehingga menjadi penyebab kematian yang tidak bisa dicegah. “Dinkes sudah memiliki program BumilKU yang akan memantau perkembangan ibu hamil baik oleh bidan maupun dokter mulai dari ketrampilan hingga 1.000 hari setelah melahirkan, pemantauan terus dilakukan,” kata Astungkara.

    Selain itu, upaya untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) akan dilakukan dengan meningkatkan kualitas pelayanan antenatal care (ANC), rujukan terencana sesuai pedoman rujukan ibu neonatal, dan peningkatan pemantauan ibu hamil oleh bidan. Pada tahun 2020, sebanyak 38 bayi meninggal akibat berat badan lahir rendah (BBLR), kelainan kongenital, prematuritas, asfiksia dan infeksi.

    Upaya yang telah dilakukan untuk menurunkan angka kematian bayi (AKB) antara lain peningkatan kualitas ANC terintegrasi di puskesmas, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK), peningkatan Pelayanan Obstetri Neonatal Gawat Darurat Komprehensif (PONEK) rumah sakit. “Kami berupaya menurunkan angka kematian ibu dan anak,” ujarnya.


    Source