Lempeng Selatan Malang dianggap mudah pecah

    Periodisasi gempa bumi besar kemungkinan besar terjadi setiap 20 sampai 30 tahun sekali.

    REPUBLIKA.CO.ID, MALANG – Guru Besar Geofisika Bencana dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Universitas Brawijaya (UB), Profesor Adi Susilo mengatakan, lempeng di wilayah selatan Malang termasuk yang lama. Artinya, lempengan-lempengan tersebut mudah pecah sehingga berpotensi mengalami gempa bumi.

    Berdasarkan analisis Adi, potensi gempa bumi dengan magnitudo 6 sampai 7 di selatan Kota Malang sebenarnya kecil. Begitu juga dengan kekuatan 8 dan 9 SR, potensi yang terjadi di Malang sangat kecil. “Yang enam itu langka. Yang (besarnya) empat dan lima lumayan banyak,” kata Adi saat dihubungi. Republika.

    Adi sendiri sudah merilis hasil analisisnya tentang gempa 2006 silam. Hal itu dilakukan setelah Indonesia banyak dilanda gempa bumi, baik di Yogyakarta, Pangandaran dan lain sebagainya. Kejadian ini membuat panik masyarakat dan menebak-nebak waktu terjadinya gempa bumi di Indonesia.

    Dalam salah satu analisisnya, Adi memfokuskan pada periodisasi gempa bumi besar yang terjadi di Jawa Timur (Jatim). Jawa Timur pernah mencatat gempa besar pada tahun 1967. Tidak ada yang tahu magnitudo gempanya, mengingat alat pendeteksiannya belum secanggih sekarang.

    Berdasarkan laporan yang ada, gempa tahun 1967 memberikan dampak yang cukup signifikan. “Begitu banyak kerusakan di Dampit, kawasan Gondanglegi, ke barat banyak yang rusak. Bagian tengahnya juga belum modern saat itu. Jadi tidak diketahui berapa kekuatannya, hanya kisaran kerusakan di kawasan ini. Ada rumah-rumah tinggal. hancur dan mati. Itu saja, “kata Adi.

    Selanjutnya gempa besar di Jawa Timur kembali terjadi pada tahun 1994. Gempa yang terjadi di Banyuwangi tercatat berkekuatan 7,6 SR. Kejadian ini mengakibatkan kerusakan rumah, ratusan warga luka-luka dan meninggal dunia.

    Dari catatan sejarah gempa ini, Adi juga memetakan periodisasi gempa besar yang mungkin terjadi setiap 20 hingga 30 tahun sekali. Analisis Adi pada 2006 menyimpulkan bahwa peristiwa itu kemungkinan besar terjadi pada 2010 atau 2020. “Itu memang 27 tahun (jauh dari 1994). Suka Betulkah pas juga 27 tahun, ”ucapnya.

    Meski Jawa Timur berpotensi gempa besar, bukan berarti masyarakat harus panik. Yang perlu diterapkan setiap warga negara adalah kewaspadaannya. “Biasa tapi dalam posisi waspada. Yang utama ya,” ucapnya.

    Kepala Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang, Ma’muri menjelaskan, setidaknya ada tiga penyebab gempa di Jatim. Pertama, gempa bermula dari subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia di wilayah selatan Jawa.

    “Ada juga sumber sesar aktif yang menyebabkan gempa bumi,” kata Ma’muri.

    Penyebab gempa ketiga di Jawa Timur berasal dari subduksi lempeng luar. Dalam hal ini gempa bumi disebabkan oleh letusan gunung berapi. Jawa Timur memiliki banyak gunung berapi, diantaranya adalah Semeru, Ijen, Bromo dan lain sebagainya.

    Selain subduksi lempeng, Jawa Timur juga memiliki sesar daratan yang cukup aktif. Sesar ini dapat menimbulkan gempa bumi di darat. Meskipun kekuatannya kecil dan pada kedalaman yang dangkal, efek kerusakan akibat gempa lebih besar daripada efek gempa subduksi.

    Hingga saat ini BMKG belum menemukan satupun sesar aktif di Kota Malang, padahal di kawasan tersebut sering terjadi gempa bumi. “Banyak sesar yang belum teridentifikasi karena sesarnya cukup banyak sehingga perlu kajian khusus untuk menandai atau menamainya,” jelasnya.

    Namun untuk wilayah Jawa Timur, BMKG menemukan tujuh patahan aktif dan enam ruas sesar Kendeng. Yakni sesar menanjak Pati, sesar Kendeng (ruas Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang, Surabaya dan Waru) dan sesar Pasuruan. Kemudian sesar Probolinggo, sesar Wongsorejo, zona sesar RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) dan sesar Bawean.

    Jika dilihat dari sejarahnya, Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang cukup banyak mengalami gempa bumi. Sedangkan di Malang terjadi pada tahun 1958 dan 19 Februari 1967 dengan gempa bumi berkekuatan 6,2 skala richter. Namun sumber gempa ini tidak termasuk sebagai patahan lokal di wilayah Malang.

    Sedangkan untuk aktivitas seismik selama dua bulan terakhir di Jawa Timur, menurut Ma’muri jumlahnya meningkat cukup banyak. Situasi ini mendorong BMKG untuk melakukan beberapa langkah yang perlu ditingkatkan.

    “Kami sudah beberapa kali melakukan survei, khususnya di Pacitan, Pantai Banyuwangi untuk melihat perkiraan ombak dan bagaimana jalur evakuasi,” terangnya.

    Selain itu, Jawa Timur juga tercatat pernah mengalami beberapa kali gempa bumi yang menimbulkan tsunami. Yakni tsunami tahun 1840, 1843, 1859 dengan catatan gelombang yang cukup besar.

    “Terakhir kita ingat tahun 1994 bahwa tsunami di Banyuwangi melanda Malang Selatan,” ucapnya.




    Source