Lonjakan Kasus Covid Belum Capai Puncaknya, Perkuat Pengawasan!

Tingkat kepositifan akan meningkat hingga tujuh minggu setelah puncak mobilitas Idul Fitri.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rr Laeny Sulistyawati, Febrya A, Antara

Penularan Covid-19 masih terjadi di tanah air, bahkan menunjukkan peningkatan dua minggu setelah libur Idul Fitri pada pertengahan Mei 2021. Berdasarkan model yang dibuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) angka tersebut tingkat positif Covid-19 akan meningkat hingga tujuh minggu dari puncak mobilitas masyarakat yang kemungkinan terjadi pada akhir Juni 2021.

“Kita sudah punya model bahwa angka kasus Covid-19 meningkat enam sampai tujuh minggu dari puncak mobilisasi. (tingkat positifIni tergantung bagaimana mobilisasi bisa ditekan dan itu bisa dilihat dari model peningkatan persentase kasus yang terjadi,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono saat berbicara dalam konferensi virtual FMB9 bertema ‘Antisipasi Peningkatan Covid-19 Kasus di Daerah, Kamis (10/6).

Dante menegaskan pembatasan mobilitas masyarakat menjelang libur lebaran seperti larangan mudik tetap akan berdampak pada upaya menekan penularan Covid-19. Jika lonjakan kasus Covid-19 saat ini masih terjadi, bukan karena gagalnya kebijakan pembatasan menjelang Lebaran.

“Tapi tergantung muatan lokal dari kegiatan yang terjadi. Meski kegiatan mobilisasi sudah ditekan, tapi kalau masyarakat setempat mobilisasi, kasusnya tetap bocor,” ujarnya.

Menurut Dante, ini bukan akibat dari kegagalan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat menjelang Lebaran. Bahkan, menurut dia, jika pembatasan tidak dilakukan, kemungkinan akan lebih banyak lagi daerah yang mengalami lonjakan kasus Covid-19.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan juga mewaspadai setiap mutasi virus yang terjadi di kemudian hari. Dia menjelaskan, mutasi ini memiliki kecenderungan untuk mempercepat penularan, seperti mutasi dari India dan Inggris.

“Mutasi ini lebih cepat memberikan tingkat penularan yang lebih dramatis dibandingkan virus biasa,” katanya.

Pada Rabu (9/6), Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 setelah libur Idul Fitri tahun ini tidak setinggi tahun lalu. Pada tahun 2020, peningkatan kasus pada minggu ketiga setelah libur lebaran tercatat sebesar 80,5 persen; sedangkan peningkatan tahun ini sebesar 53,4 persen.

Peningkatan pada tahun 2020 disumbang oleh Jawa Timur sebesar 535 persen, Sulawesi Selatan naik 293 persen, Kalimantan Selatan naik 113 persen, Jawa Tengah naik 44,2 persen, dan DKI Jakarta naik 38,4 persen.

“Tahun ini peningkatannya tidak setinggi tahun lalu,” kata Wiku saat konferensi pers, Rabu (9/6).

Sementara itu, tiga pekan setelah periode Idul Fitri tahun ini, terjadi peningkatan sebesar 53,4. Peningkatan ini disumbang oleh Jawa Tengah sebesar 120 persen, Kepulauan Riau sebesar 82 persen, Sumatera Barat sebesar 74 persen, DKI Jakarta sebesar 63 persen, dan Jawa Barat sebesar 23 persen.

Lebih lanjut, Satgas kemudian melihat perkembangan peningkatan kasus di tingkat provinsi. Peningkatan di tingkat provinsi tahun ini tidak sebesar tahun lalu. Pada tahun 2020, peningkatan di tingkat provinsi bahkan akan mencapai 500 persen; sedangkan pada tahun 2021 peningkatan tertinggi adalah 120 persen.

“Perlu kita sadari bahwa peningkatan di beberapa kabupaten dan kota terjadi secara signifikan. Kabupaten dan kota ini memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kasus di masing-masing provinsi tersebut,” ujarnya.

Dalam Gambar: Puluhan Santri dan Pengurus Pondok Pesantren Positif Covid-19

Perkuat pengawasan

Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan pemerintah harus memperkuat pengawasan, pelacakan kontak (pelacakan kontak) dan pengujian (pengujian) untuk dapat memprediksi peningkatan dan mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19.

“Terutama adalah tiga kunci pengawasan, pelacakan kontak dan pengujian. Itu baru dasar yang diperbaiki agar indikator kita benar dan kita tahu kasusnya bertambah atau berkurang,” kata Yunis, Kamis.

Yunis mengatakan, jika pengawasan, pelacakan kontak, dan pengujian kuat, mereka dapat memprediksi peningkatan kasus Covid-19 di masa depan, sehingga mereka dapat mempersiapkan mitigasi dengan tepat dan jauh lebih siap. Selain itu, upaya penanggulangan Covid-19 juga harus dilakukan dengan baik, antara lain kepatuhan terhadap protokol kesehatan, penerapan social distancing mulai dari skala ringan, sedang hingga berat, percepatan deteksi, disinfeksi, isolasi atau karantina, serta pengobatan atau penanganan pasien COVID-19. dalam hal kesiapan sumber daya di bidang kesehatan.

“Kalau pengawasannya bagus, kabupaten atau kota bisa memprediksi lonjakan kasus,” katanya.

Surveilans adalah kejadian kasus yang dilaporkan dari Puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten atau kota, kemudian ke provinsi, dan laporan provinsi ke pusat. Yunis mengatakan, saat ini surveilans seluruh kabupaten/kota dan provinsi serta nasional tidak menggambarkan peningkatan kasus yang terjadi di masyarakat.

Surveilans harus menggambarkan peningkatan kasus di masyarakat. Jika surveilans menggambarkan peningkatan kasus dengan baik, maka akan dapat memprediksi dengan tepat kapan kapasitas pelayanan kesehatan kabupaten atau kota akan penuh karena lonjakan kasus.

Untuk meningkatkan pengawasan, lanjutnya, semua kasus harus segera dilaporkan dan tidak disimpan meskipun laporan tersebut dapat meningkatkan zona risiko kabupaten/kota.

“Agar zona risiko kabupaten atau kota tidak merah, kasus harian atau rekor barudisimpan seolah-olah belum dikonfirmasi,” kata Yunis.

Selain pengawasan, kata Yunis, contact tracing juga harus ditingkatkan jika ingin menemukan lebih banyak kasus guna memutus mata rantai penularan Covid-19. Pada Juni 2020, contact tracing rate masih relatif baik dengan rasio 1:20 banding 1:40, di mana saat ditemukan satu kasus terkonfirmasi positif Covid-19, terlacak 20-40 tersangka.

Namun, tingkat pelacakan kontak saat ini tidak mencapai 1:20. Misalnya, per 8 Juni 2021, tercatat 7.725 kasus positif Covid-19, sedangkan tersangka 97.967, artinya contact tracing rate-nya sekitar 1:12. Padahal tingkat contact tracing harus ditingkatkan dari hari ke hari, agar kasus Covid-19 lebih banyak ditemukan di masyarakat.



https://www.republika.co.id/berita/quhjts409/lonjakan-kasus-covid-belum-capai-puncak-perkuat-surveilans