LPA Berharap Orangtua dan Guru Bersabar Selama Masa BDR

Sumbawa Besar, Gaung NTB – Pada masa awal pandemi Covid 19, Provinsi NTB sempat berada di posisi nomor dua nasional atas angka kasus positif Covid 19 pada anak mencapai angka 77 kasus, hingga aktivitas dunia pendidikan di sekolah maupun Universitas dihentikan berlanjut dengan belajar jarak jauh dari rumah baik daring maupun luring.

Sudah hamper 4 bulan ini semua elemen berusaha beradaptasi dengan kebiasaan baru (new normal) dan merasa sudah bisa menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan menggunakan sabun.  Beberapa daerah di NTB termasuk kabupaten Sumbawa sudah mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) dengan kembali beraktivitas dengan normal baru.

Banyak orangtua maupun guru kini mempertanyakan kenapa mal dibuka, tempat wisata dibuka, tempat makan dibuka, toko swalayan dibuka, pasar dibuka, sementara anak-anak tak diizinkan kembali ke sekolah?

Menanggapi hal ini Ketua Lembaga Perlindungan anak (LPA) Kabupaten Sumbawa M Ikraman kepada Gaung NTB kemarin mengatakan orang tua maupun guru mesti bersabar apabila sudah saatnya nanti pasti anak-anak akan diizinkan kembali ke sekolah.

“Saya kira, pemerintah masih pelan-pelan menerapkan new normal ini khususnya pada dunia pendidikan, karena anak-anak sulit untuk bisa dipastikan tidak lepaskan masker saat bermain, belajar dan beraktivitas karena mereka cepat bosan, dan saat ini ini pun kita masih mengajarkan anak-anak kita untuk mulai terbiasa dengan kewajiban gunakan masker, jaga jarak maupun cuci tangan dengan sabun,” katanya.

Ikraman selanjutnya membayangkan, ketika satu anak disekolah A atau B positif Covid 19 kemudian langkah yang dilakukan adalah karantina satu kelas atau satu sekolah. Bukan apa, masalah ketika positif Covid 19, maka orang itu harus isolasi, dan tidak boleh bertemu dengan siapa-siapa. Sementara sulit juga memisahkan, antara orangtua dan anak saat dilakukan isolasi tersebut.

“Banyak orangtua pasti ingin jenguk anaknya saat isolasi, anak akan menangis karena takut sendiri diruang isolasi dan orangtua pasti akan menangis minta ikut isolasi dengan anaknya, lalu sekarang kita protes saat Mall dibuka, sekarang ingat seberapa si banyak orang tua atau anak yang akan pergi ke mall namun ketika sekolah dibuka maka resikonya akan lebih besar,” ujarnya.

Oleh karena itu, orangtua harus lebih sabar mendidik dirumah dan silahkan gunakan ilmu sebagai seorang guru (pendidik/pengajar) dalam memfasilitasi dan membantu anak mengerjakan tugas selama BDR. Tidak perlu mengelu sana sini sambungnya, kalau sudah waktunya maka sekolah pasti akan dibuka.

Ikraman menjelaskan, dari kasus 15 positif di Brangkolong misalnya, tidak jelas juga darimana penularannya, bisa jadi kluster pasar atau dari kluster lainnya, pertanyaannya tidak ada yang bisa mengawasi sampai detail.

“Covid 19 ini sebenarnya bisa jadi kita sudah terkena semua, namun masalahnya kita diperiksa atau tidak (red tes swab atau rapid), sehingga saya masih setuju BDR diperpanjang agar tidak terjadi kluster sekolah, karena kita saat ini juga masih sedang belajar tentang new normal dan belum sepenuhnya bisa menerima apalagi anak-anak yang belum mengerti apa-apa” seraya menyebutkan sulit melakukan jaga jarak karena memang kodratnya manusia ini makhluk sosial, senang berkumpul dan mengeluarkan pendapat meski sulit namun harus dilakukan pungkas Ikraman. (Gks)