Mahasiswa UMM Bantu Kembangkan Pariwisata di Kajoetangan

    Mahasiswa UMM menilai branding tempat wisata harus diperhatikan saat pandemi

    REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampoeng Kajoetangan Malang menggelar agenda Pengembangan Wisata Kampoeng Heritage Kajoetangan Malang pada 10-11 Juli mendatang. Agenda forum yang juga mengundang pihak internal desa dan beberapa narasumber ahli ini juga disingkat PPKM.

    Pada hari pertama, diskusi membahas rekonsolidasi dan penguatan komunikasi internal di Kampoeng Heritage Kajoetangan. Sekretaris Jenderal Forum Ekowisata Jawa Timur, Tri Sulihanto, menjelaskan pentingnya perencanaan pariwisata yang terukur. Selain itu, kamu juga harus bisa berkelanjutan dan memiliki kelembagaan yang baik untuk mendukung pengelolaan pariwisata terkait.

    Dalam menyelenggarakan kepariwisataan, diperlukan adanya Kelompok Kerja Pariwisata Daerah (KKLP). “Ini nantinya menjadi wadah koordinasi dan komunikasi para pemangku kepentingan di desa atau destinasi wisata,” kata Founder Travelista Malang ini.

    Dalam kegiatan diskusi, peserta kegiatan juga menyepakati bahwa pariwisata merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Lebih penting lagi, untuk melindungi peninggalan sejarah di Kampoeng Heritage Kajoetangan.

    Mereka juga merasa bahwa partisipasi masyarakat juga penting mengingat kegiatan pariwisata berbasis masyarakat menggunakan aset publik dalam pelaksanaannya.

    Sementara itu, agenda hari kedua mengkaji strategi branding pariwisata di tengah pandemi. Tema ini diangkat mengingat keadaan pariwisata yang sempat terhenti beberapa waktu.

    Arum Martikasari yang ditunjuk sebagai pembicara mengatakan branding tempat wisata di tengah pandemi menjadi hal yang perlu diperhatikan. “Hal ini tidak lepas dari penurunan kunjungan wisatawan akibat pembatasan,” katanya dalam pesan resmi yang diterima Republik, Sabtu (17/7).

    Menurut Arum, ada empat syarat utama untuk mengembangkan pariwisata. Mulai dari atraksi (atraksi), aksesibilitas (akses), amenity (fasilitas khusus) hingga tambahan (layanan tambahan). Penggalian peninggalan di lokasi wisata juga bisa menjadi daya tarik tersendiri agar pengunjung mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan.

    “Pasti ada berbagai peninggalan di lokasi Kampoeng Heritage Kajoetangan. Sehingga perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar mampu memberikan kesan yang baik,” jelasnya.

    Pada kesempatan yang sama, Anggota Pokdarwis Divisi UMKM, Sri Arniati merasa puas dengan kegiatan yang digagas oleh mahasiswa UMM tersebut. Ia juga menilai Kampoeng Heritage Kajoetangan sudah memiliki empat pilar tersebut. Tinggal bagaimana mengelolanya dengan pengelolaan yang baik dan melibatkan anggota masyarakat sehingga mampu memanfaatkan budaya lokal yang ada.

    Tim CAC.Co dari Ilmu Komunikasi UMM berharap kegiatan ini dapat menjadi ajang silaturahmi sekaligus forum komunikasi untuk memaksimalkan branding pariwisata Kampoeng Heritage Kajoetangan. “Semoga desa ini bisa menjadi pariwisata berkelanjutan yang sukses,” tambahnya.



    https://www.republika.co.id/berita/qwel3q349/mahasiswa-umm-bantu-kembangkan-wisata-di-kajoetangan