Malapraktik Pengisi Payudara, Pelakunya Menggunakan Silikon Industri

    Cairan yang digunakan pemain biasanya untuk industri termasuk pembuatan ban

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Polisi menangkap seorang perempuan berinisial SR, seorang dokter palsu, karena melakukan malpraktek pembesaran payudara hingga menyebabkan dada korban membusuk. Setelah ditelusuri, SR ternyata menyuntikkan silikon yang biasa digunakan untuk kebutuhan industri.

    “Kami memeriksa cairan yang sering digunakan untuk suntik kecantikan. Hasilnya ternyata bukan cairan untuk tubuh tapi untuk industri,” kata Kapolsek Metro Jakarta Barat Kombes Pol Ady Wibowo saat rilis Kasua di Jakarta Barat. Mabes Polri, Selasa (6/4).

    Ady menjelaskan, cairan pengisi yang disuntikkan SR ke bokong atau payudara korban biasanya digunakan untuk bahan industri. Salah satunya untuk pembuatan ban. Jelas tidak boleh digunakan untuk operasi kosmetik.

    SR membeli silikon industri dari seorang pria berinisial ML yang berbasis di Batam, Kepulauan Riau. SR menghabiskan Rp 3,5 juta untuk 1.000 sentimeter kubik (cc) silikon.

    Tak hanya menggunakan silikon industri, tersangka SR juga tidak memiliki izin praktik kedokteran. Diketahui bahwa ia memiliki latar belakang pendidikan pertanian sarjana.

    Ia bertekad membuka praktik pembesaran payudara dengan hanya memperoleh sertifikat setelah mengikuti kursus satu hari. “Pada 10 Oktober 2020, tersangka SR mengikuti proses pemasangan pengisi payudara dan bokong di sebuah hotel di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat yang dilakukan oleh dokter berinisial LC,” kata Ady.

    SR mengaku telah menyuntikkan satu paket silikon ke payudaranya sendiri. Ia menilai, tidak ada efek samping pada payudaranya. Ia pun berani memasarkan produknya ke masyarakat luas.

    SR diketahui memasarkan jasa pembesaran payudara melalui rekening Instagram Toko Kecantikan Sexi. Dia menawarkan harga Rp 5 juta untuk 500 cc silikon dan Rp 3 juta untuk 250 cc.

    Promosi SR ternyata menarik sejumlah wanita. Dua di antaranya adalah model media sosial berinisial CT dan WT.

    SR kemudian melakukan penyuntikan pengisi Payudara kedua model tersebut di sebuah penginapan di Taman Sari pada 26 Oktober 2020. “Namun setelah dilakukan tindakan, korban mengalami demam, payudara bengkak, dan keluar cairan nanah dari tempat suntikan,” kata Ady.

    Kedua model tersebut kemudian melaporkan apa yang mereka alami ke Polres Metro Jakarta Barat pada 21 Maret 2021. Aparat berhasil menangkap SR di kediamannya di Pondok Pucung, Tangerang Selatan pada 23 Maret 2021. Juga mengamankan barang bukti berupa cairan silikon saat ditangkap. .

    Setelah diinterogasi, kata Ady, diketahui SR telah melakukan suntik filler payudara sebanyak 15 kali. Dia juga mendapat untung Rp. 75 juta.

    Setelah menangkap SR, petugas dari Polres Jakarta Barat berhasil menangkap ML, pria penjual silikon, di Batam pada 29 Maret 2021. Dari tangan ML, berhasil diamankan 298 botol cairan. pengisi atau silikon.

    Sementara itu, peran dokter berinisial LC masih diselidiki dalam kasus ini. Sedangkan SR dan ML ditetapkan sebagai tersangka dan didakwa dengan pasal ganda.

    Pertama, Pasal 77 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Kemudian Pasal 197 dan 198 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Selanjutnya Pasal 62 ayat (1) jo Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ditambah Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

    Sementara itu, anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Barat, Dokter Dolar mengatakan, praktik ilegal yang dilakukan SR sangat merugikan dunia kesehatan. Dolar mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh rayuan cairan palsu yang beredar di media sosial dan praktik medis yang dilakukan di kamar hotel.

    “Jadi SR ini mengaku sebagai dokter. Padahal dokter tidak berpraktek di hotel. Jadi kalau ada praktek di hotel laporkan ke polisi,” kata Dolar di kesempatan yang sama.




    Source