Malaysia Menyediakan Dana Petronas untuk Membeli Vaksin

Malaysia mengalami lonjakan tajam dalam tingkat infeksi Cobid-19 menjelang akhir 2020

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR – Pemerintah Malaysia memberlakukan undang-undang darurat baru yang memungkinkan penggunaan dana yang bersumber dari kontribusi migas untuk membayar pengadaan vaksin, Rabu (21/4). Upaya tersebut adalah dengan meningkatkan program vaksinasi Covid-19.

Peraturan tersebut akan memungkinkan akses pemerintah untuk menggunakan 17,4 miliar ringgit di bawah dana perwalian nasional. Dana tersebut untuk mengamankan vaksin untuk setiap epidemi penyakit menular.

Dana perwalian, yang menarik sumbangan dari perusahaan energi negara Petronas dan lainnya yang terlibat dalam eksploitasi minyak bumi, didirikan untuk mendukung infrastruktur dan pembangunan lainnya. Dana tersebut juga memberikan pinjaman federal kepada negara bagian Malaysia.

Petronas sudah memberikan dividen tahunan kepada pemerintah. Perusahaan mengumumkan pembayaran sebesar 18 miliar ringgit untuk tahun ini.

Pada bulan Januari, Raja Al-Sultan Abdullah mengumumkan keadaan darurat nasional untuk mengekang penyebaran Covid-19. Kondisi ini memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah untuk memberlakukan undang-undang sementara tanpa memerlukan persetujuan parlemen.

Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, pada Maret hampir menggandakan anggaran imunisasi Covid-19 negara itu menjadi 5 miliar ringgit. Pencairan tersebut diharapkan dapat membantu mencapai target pemerintah untuk menginokulasi 80 persen dari 32 juta penduduk Malaysia pada bulan Desember.

Tetapi oposisi dan publik mengkritik pemerintah karena lambatnya peluncuran rencana vaksinasi yang dimulai pada Februari. Hampir 750.000 orang telah divaksinasi penuh pada hari Selasa, sementara 462.000 lainnya menunggu suntikan kedua.

Malaysia mengalami lonjakan tajam dalam tingkat infeksi Cobid-19 menjelang akhir tahun 2020 setelah sebagian besar terkendali sepanjang tahun. Negara ini memiliki jumlah infeksi tertinggi ketiga di kawasan setelah Indonesia dan Filipina, dengan hampir 382.000 kasus positif dan 1.400 kematian pada Rabu.

sumber: Reuters




Source