Masjid Jami Al-Ma’mur Cikini, Dibangun Tahun 1890 dan Bercerita tentang Pengkhianatan Kolonial Belanda

    Laporan Jurnalis Tribunnews, Larasati Dyah Utami

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menggali sejarah Masjid Jami Al-Makmur Cikini yang merupakan peninggalan maestro seni lukis Indonesia Sjarif Boestaman atau yang dikenal dengan Raden Saleh belum mulus sejak dibangun.

    Awalnya masjid yang dibangun pada tahun 1890 ini merupakan perpindahan dari Surau yang dibangun oleh Raden Saleh sekitar tahun 1860 di sebelah kediamannya.

    Ketua DKM Masjid Jami Cikini Al Ma’mur Haji Syahlani (72) mengatakan, setelah peninggalan Raden Saleh, kepemilikan masjid dan tanah di sekitar masjid jatuh ke tangan Sayed Abdullah bin Alatas.

    Baca juga: Makassar mendunia, masjid berkubah 99 muncul di koran Jerman & menjadi daya tarik perayaan Ramadhan

    Masjid dan tanah tersebut kemudian dijual kepada sebuah yayasan di bawah pemerintahan kolonial Belanda yang disebut Emma Foundation atau dalam bahasa Belanda Emma Ziekenhuis Koningen.

    Ketua DKM Masjid Jami Cikini Al Ma’mur, Haji Syahlani (72), (Larasati Diah Utami / Tribunnews.com)

    Raden alim berjualan tapi hanya separuhnya yang disumbangkan ke masjid, kata Syahlani kepada Tribunnews, Jumat (18/4/2021).

    Yayasan Emma berencana membangun rumah sakit di daerah tersebut

    Baca juga: Kisah Habib Kuncung, Ulama Hadramaut yang Meninggalkan Harta dan Menyiarkan Islam di Jakarta

    Kedua pihak sepakat untuk menjual warisan Raden Saleh dengan kesepakatan harga tanah dikurangi setengahnya, namun dengan syarat masjid tidak digusur.

    Penjualan tersebut akhirnya dilakukan dan disepakati oleh kedua belah pihak, namun pemerintah kolonial Belanda mengingkari kesepakatan tersebut dan ingin menggusur masjid tersebut.

    “Masalahnya waktu itu pas diserahterimakan tidak ada kertas (perjanjian hitam putih),” kata Haji Syahlani.




    Source