Masterplan Yogya Susun Bekerja Sama dengan Carry-On Berbasis Desa

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Program Kolaborasi yang telah dilaksanakan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan terus berkembang. Saat ini program berada pada tahapan untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul di setiap kelurahan dengan menyusun master plan berbasis desa.

“Masterplan ini bukan sekedar profil daerah, tapi kecamatan harus bisa memetakan masalah yang harus segera diselesaikan dan mengembangkan kawasan sesuai potensinya,” kata Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, di Yogyakarta.

Menurutnya, program atau rencana pembangunan yang disusun kelurahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) yang rutin digulirkan setiap tahun belum mampu menyelesaikan tuntas permasalahan yang ada di kelurahan tersebut.

Kondisi ini, lanjutnya, disebabkan kelurahan tidak fokus pada masalah yang ingin diselesaikan dan kurangnya dukungan anggaran untuk mengatasi masalah tersebut karena masing-masing organisasi perangkat daerah memiliki program yang berbeda-beda.

Master Plan Kolaborasi Gendong akan disusun untuk jangka waktu 10 tahun dengan memasukkan peran semua elemen dalam program yaitu pemerintah, kampus, perusahaan, masyarakat, dan desa. “Tentunya target kegiatan di setiap kelurahan akan berbeda karena permasalahan yang dihadapi berbeda-beda,” ujarnya.

Ia berharap, penyusunan masterplan Hand-Gendong turut menggerakkan perekonomian di masing-masing desa. Sehingga upaya pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan yang ditargetkan pada saat program digulirkan masih dapat terwujud.

“Kalau master plan sudah ada, akan menjadi pedoman bagi pembangunan di Yogyakarta termasuk pedoman program dan kegiatan masing-masing instansi di Yogyakarta,” ujarnya.

Untuk itu, Heroe berharap, permasalahan yang ada di masing-masing desa bisa diselesaikan tuntas dalam waktu yang cepat.

Pada tahap awal, kegiatan Kolaborasi dengan Gendong sebagian besar dilakukan dengan membentuk kelompok kuliner di masyarakat yang memenuhi kebutuhan jamuan makan dan minuman di berbagai acara yang diadakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

Hingga saat ini, sudah lebih dari 220 kelompok kuliner di masyarakat yang telah mengikuti program tersebut. Sedangkan tahap kedua, penataan kawasan telah dilakukan di tiga lokasi yaitu di Tepi Sungai Karangwaru yang didukung dengan keberadaan perkampungan sayur dan kebun markisa.

Selain itu, pembangunan juga dilakukan di Desa Wirogunan dan Gedongkiwo. Ide awal penataan berbasis kawasan ini datang dari warga di Bendungan Lepen dengan menata tepian Sungai Winongo untuk dikembangkan sebagai tempat wisata, katanya.


Source