Masyarakat di Papua Bisa Menyaksikan Gerhana Bulan Total Dengan Aman

Masyarakat di Papua dapat melihat gerhana bulan pada hari Rabu dengan mata telanjang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gerhana bulan total akan terjadi pada Rabu (26/5). Masyarakat di Provinsi Papua akan dapat melihat gerhana bulan dengan aman, yaitu melalui mata telanjang dan tanpa harus memakai kacamata khusus.

Kepala Pusat Seismologi Teknis, Geofisika Potensi, dan Rambu Waktu BMKG Rahmat Triyono dalam siaran pers yang diterima di Jayapura, Minggu (23/5), mengatakan, gerhana bulan total ini bisa disaksikan jika kondisi cuaca mendung dari laut. awal pengerjaan yaitu pukul 17.46 WIB sampai dengan penghujung hari. 22.51 WIB. “Pada puncaknya, di sebagian besar wilayah Indonesia, posisi bulan dekat dengan ufuk di bagian timur, sehingga memungkinkan pengamat untuk bisa mengabadikan gerhana ini dengan latar depan bangunan bersejarah atau ikonik,” ujarnya.

Menurut Rahmat, fase (P1) atau awal gerhana bulan dimulai pukul 17.46.12 WIB yang melintasi Papua bagian tengah, sehingga pengamat di Provinsi Papua bisa menyaksikan keseluruhan proses gerhana bulan total ini. “Fase puncak gerhana bulan total terjadi pada pukul 20: 18,43 WIB, terlihat di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di sebagian kecil Riau, sebagian Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh,” ujarnya.

Ia menjelaskan, masyarakat dapat mengikuti proses observasi ini dengan mengakses https://www.bmkg.go.id/gbt. Selain itu masyarakat yang berada di pinggir pantai atau pinggir laut (pantai) perlu mewaspadai terjadinya pasang laut yang lebih tinggi dari pasang normal.

Gerhana bulan, kata dia, adalah peristiwa sinar matahari terhalang bumi sehingga tidak semuanya sampai ke bulan seperti yang terlihat dari bumi. Peristiwa ini merupakan salah satu konsekuensi dari pergerakan dinamis posisi matahari, bumi dan bulan. Ini hanya terjadi selama fase bulan purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.

Selain itu, gerhana bulan total terjadi pada saat posisi matahari-bumi-bulan sejajar, hal ini terjadi pada saat bulan berada di umbra bumi, yang berakibat pada saat puncak gerhana bulan total terjadi maka bulan. akan tampak merah (dikenal sebagai Blood Moon). “Karena posisi bulan pada saat gerhana berada pada posisi terdekat dengan bumi (Perigee), maka bulan akan terlihat lebih besar dari fase bulan purnama normal, sehingga sering disebut sebagai Supermoon, sehingga terjadi gerhana bulan total pada bulan Mei. 26 Tahun 2021 disebut juga Super Blood. Bulan, karena terjadi saat bulan di Perigee atau bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi, ”kata Rahmat Triyono.

sumber: Antara




Source