Masyarakat Orong Telu Sebrangi Sungai Dengan ‘Jembatan Ponton’

Sumbawa Besar, Gaung NTB

Musim hujan menjadi tantangan berat bagi masyarakat Orong Telu dan Baturotok. Pasalnya, medan jalan menuju wilayah ini cukup sulit. Hal itu diperparah lagi dengan kondisi Jembatan Tempoak Renok yang belum juga selesai dibangun. Satu-satu jalan yang bisa dilalui yaitu menyebrangi sungai.Upaya membangun Jembatan sementara juga telah dilakukan oleh pemerintah, tetapi hanyut tiap kali banjir. Masyarakat dengan bergotong royong juga sudah berusaha membangun jembatan sementara, tetapi materialnya lagi dan lagi selalu hanyut dibawah banjir.Insitas hujan diwilayah ini cukup tinggi, tak heran jika banjir terjadi hampir setiap hari. Jika ingin melintasi sungai saat banjir maka masyarakat harus menginap sembari menunggu debit air surut.

“Ketika pulang kampung kemarin, saya dan beberapa teman relawan yang akan menuju Baturotok harus menginap ditepi sungai karena debit air cukup tinggi bertepatan dengan banjir bandang, kami tidak tahu situasinya demikian sehingga tak membawa bekal, saat malam hari kami kelaparan. Keesokan harinya debit air masih saja tinggi, kami terpaksa menunggu ekskapator untuk mengisi material batu ke sungai agar tidak terlalu dalam dan bisa kami lalui dengan perahu kayu atau menggotong motor dengan sesama teman dibantu masyarakat setempat” demikian disampaikan Sendi Akramullah kepada Gaung NTB rabu (17/12).

Disebutkan, jika ingin menyebrangi sungai dengan sepeda motor tanpa basah kuyup maka harus membayar Rp 50 ribu. Hal itu karena ongkos buruh untuk mengangkat motor dengan kayu karena kedalaman air mencapai pundak orang dewasa. Bagi perempuan dan anak kecil sambungnya, opsi aman adalah naik ke atas perahu kayu sederhana tersebut. Meskipun resiko untuk jatuh bisa saja terjadi apabila salah satu ada yang tergelincir.

Sedangkan, bagi kendaraan pic up jenis L300 sekali menyebrangi sungai, bayarannya mencapai Rp 100 ribu dengan dinaikan ke atas truk. Kendaraan jenis pic up ini milik pedagang yang berjualan kebutuhan pokok seperti ikan laut, ayam dan aneka sayuran.“Di wilayah kami tidak ada pasar, jadi masyarakat sangat bergantung dengan pedagang yang datang berjualan dari Sumbawa menggunakan kendaraan pic up, meski harganya cukup tinggi mereka tetap membelinya karena untuk mencukupi kebutuhan gizi seimbang apalagi ditengah pandemi Covid 19 sekarang ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu diharapkan Dinas Pekerjaan Umum segera mengambil langkah agar kontraktor dapat menyelesaikan pembangunan jembatan Tempoak Renok, bila perlu sambungnya berikan teguran dan finalti jika tidak mampu menyelesaikan proyek tepat waktu.“Mau sampai kapan kami bertaruh nyawa sebrangi sungai dengan kondisi ekonomi serba terbatas karena menyebrang saja harus bayar, maka pemda harus hadir menolong kami,” tegas Sendi.

Mahasiswa Fakultas Teknik UNRAM ini juga meminta Pengawas Lapangan dan PPK Dinas PU lebih jeli dan cepat merespon masalah pembangunan jembatan Tempoak Renok mengingat situasi musim hujan  maka debit air akan lebih besar dan bahaya mengintai masyarakat kapan saja.“Jangan sampai ada korban jiwa karena bertaruh nyawa, mengingat ini masih di bulan Desember bagaimana dengan bulan Januari dan Februari nanti, kemungkinan masyarakat Orongtelu bisa terisolasi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Sendi juga menyayangkan sikap PPK seakan tak berdosa mengatakan progress pembangunan jembatan sudah mencapai 60% padahal belum sampai segitu angkanya.“Berdasarkan diskusi yang telah dilakukan dengan beberapa tim ahli secara real dilapangan angkanya belum 60%, tolong jangan lagi berbohong kepada publik,” pungkasnya.Menurut Sendi, pembangunan kedua jembatan lainnya yang lokasinya tak jauh dari Jembatan Tempoak Renok juga mesti diprioritaskan pembangunannya yakni jembatan limpas Brang punik dan paruak (tanjakan) Sangarepek karena saat ini kondisinya sangat memperihatinkan.(Gks)