Mata pencaharian anak yang orang tuanya bercerai, siapa yang wajib menghidupinya?

    Ayah tetap memiliki kewajiban hidup meski sudah bercerai

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Seorang suami menceraikan istrinya dan meninggalkan anak kandungnya. Setelah bercerai, siapa yang wajib menghidupi anak-anak ini? Apa pedoman syariah tentang tunjangan anak setelah orang tua bercerai?

    Mengutip Harian Republika, Berikut penjelasan dosen Institut Sains Alquran (IIQ) Jakarta, Ustadz Oni Sahroni:

    Pembekalan anak menjadi tanggung jawab ayah pada masa iddah, setelah masa iddah berakhir, atau setelah ibu kawin lagi. Mata pencaharian ini mencakup semua kebutuhan anak sesuai dengan kebiasaan dan kemampuan ayah.

    Dalam praktiknya, musyawarah dengan mantan istri merupakan pilihan. Kesimpulan ini bisa dijelaskan pada poin-poin berikut.

    Pertama, anak menjadi tanggung jawab bapak, baik pada masa iddah, setelah masa iddah selesai, maupun setelah mantan isteri kawin lagi. Semua ulama setuju bahwa ketika dia menggertak istrinya dan meninggalkan anak kecil, biaya (dukungan) untuk anak menjadi tanggung jawab ayah. Ketentuan ini adalah apakah kondisi istri dalam keadaan memadai atau tidak.

    Lebih lanjut Syekh ‘Athiyah Shaqr menjelaskan, “Jika seorang suami memiliki anak dari istri yang diceraikan dan istri yang merawatnya, maka suami memberikan dukungan kepada anak tersebut, baik anak-anak itu ada bersamanya atau tidak”. (Maushuat al-Usrah, 6/353).

    Sebagaimana dijelaskan dalam peraturan terkait, “Dalam hal terjadi perceraian maka pengasuhan anak yang belum mumayyiz atau belum berusia 12 tahun adalah hak ibu. Pengurusan anak yang mumayyiz diserahkan kepada anak. untuk memilih antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak untuk merawatnya. pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya. “(Kompilasi Hukum Islam, pasal 105).

    Demikian juga dijelaskan dalam undang-undang, “Akibat putusnya perkawinan karena perceraian adalah: Baik bapak maupun ibu tetap berkewajiban mengasuh dan mendidik anak, semata-mata atas dasar kepentingan anak. ; bila terjadi perselisihan penguasaan anak maka Mahkamah memberikan putusan. ”(Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).

    Kedua, meskipun merupakan kewajiban ayah, namun besarannya sesuai dengan kesepakatan dan kemampuan suami. Di antara kebutuhan dasar setiap anak adalah biaya perumahan, kesehatan, pendidikan, dan sejenisnya. Seperti yang dikatakan Allah SWT:

    لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ “Biarlah mereka yang mampu mencari nafkah sesuai dengan kemampuannya ….” (Surah At Talaq: 7).

    Hal ini juga sesuai dengan analogi jumlah penghasilan istri, sebagaimana tercantum dalam hadits Nabi Muhammad SAW:

    وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ “Dan (istri) mereka tepat di atasmu adalah untuk menafkahi mereka dan menjunjung mereka dengan cara yang baik”. (HR Muslim).

    Ketiga, musyawarah pembagian tugas. Dalam praktiknya, musyawarah dengan mantan istri merupakan pilihan. Misalnya ibu fokus pada pembinaan anak, sedangkan semua biaya untuk anak menjadi tanggung jawab bapak (mantan suami).

    Begitu pula dengan besarnya dukungan, musyawarah antara bapak dan ibu untuk menentukan kebutuhan finansial anak adalah cara terbaik.

    Keempat, jika ayah enggan untuk menghidupi anaknya, pengadilan berhak untuk mewajibkan dia. Sebagaimana ditegaskan peraturan terkait, “Pengadilan dapat mewajibkan mantan suami untuk membiayai hidup dan / atau kewajiban mantan istri.” (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).

    Hal ini juga sejalan dengan beberapa penjelasan ahli fiqih yang menyiratkan kewajiban tersebut, yaitu penjelasan Ibnu Qudamah, “Kewajiban menyusui anak adalah kewajiban seorang ayah, dan dia tidak boleh memaksa ibu untuk menyusui ketika dia bercerai. tahu ada perbedaan pendapat sehubungan dengan anak. masalah ini. ” (Lihat Al Mughni, 11/430).

    Begitu pula dengan penjelasan Ibnu Taimiyyah, “Padahal, biaya menyusui adalah hak ibu sesuai kesepakatan ulama.” (Lihat Al Fatawa Al Kubra, 3/347). Allah Maha Tahu.

    sumber: Harian Republika




    Source