Mempertaruhkan Hubungan dengan Turki, Biden Siap Menyatakan Genosida untuk Serangan Ottoman di Armenia

TRIBUNNEWS.COM – Mempertaruhkan hubungan dengan Turki, Presiden AS Joe Biden siap menyatakan bahwa serangan Kekaisaran Ottoman terhadap orang-orang Armenia sama dengan genosida.

Deklarasi yang akan dibuat Biden minggu ini akan membahayakan hubungan AS dengan Turki.

Dilaporkan CNNDua orang yang mengetahui keputusan tersebut mengatakan Biden mungkin akan mengumumkannya pada Hari Peringatan insiden pada hari Sabtu.

Namun, kedua sumber ini mengatakan, Biden mungkin berubah pikiran untuk menyatakannya sebagai peristiwa bersejarah tanpa menyebutnya genosida.

Sementara itu, sumber lain mengatakan para pejabat AS memberi isyarat kepada sekutunya yang ingin Biden mendeklarasikan genosida, bahwa Presiden AS akan segera melakukannya.

Baca juga: Konferensi Perdamaian Perang Afghanistan di Turki Ditunda, Taliban Enggan Datang

Baca juga: Beribadah Sambil Menikmati Keindahan Arsitektur Turki di Masjid Taman Mini At-Tin

Presiden AS Joe Biden berbicara kepada wartawan selama konferensi pers pertama kepresidenannya di Ruang Timur Gedung Putih pada 25 Maret 2021 di Washington, DC. Pada hari ke-64 masa pemerintahannya, Biden, 78, menghadapi pertanyaan tentang pandemi virus corona, imigrasi, pengendalian senjata, dan subjek lainnya. (Somodevilla Chip / Getty Images / AFP)

Pemerintah Turki sering mengajukan keluhan karena pemerintah asing menggambarkan peristiwa 1915 sebagai “genosida”.

Turki menganggap kejadian pembantaian Kekaisaran Ottoman terhadap orang-orang Armenia sebagai buntut dari perang tersebut dan kedua belah pihak mengalami kerugian.

Turki mengatakan 300.000 orang Armenia tewas dalam insiden itu, tetapi menurut Wikipedia, sekitar 1 juta orang tewas.

Presiden Barack Obama dan Donald Trump sama-sama menghindari penggunaan kata ‘genosida’ untuk menghindari kemarahan dari Ankara.

Namun, menurut Biden, Turki seharusnya tidak mencegah penggunaan istilah yang akan memvalidasi penderitaan rakyat Armenia dan terkait dengan hak asasi manusia.




Source