Mengenal Ragam Bahan Makanan Lokal Khas NTT yang Unik

    Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal dengan bahan makanan lokalnya yang unik.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setiap daerah di Indonesia memiliki bahan makanan khas dan khas daerah masing-masing. Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak terkecuali, dengan sejumlah sumber karbohidrat serta sumber protein nabati.

    Bahan pangan lokal yang paling menonjol di NTT adalah sorgum. Dalam beberapa tahun terakhir, sorgum juga sedang naik daun karena bebas gluten, sehingga dapat menjadi solusi bagi anak berkebutuhan khusus.

    Dikutip dari siaran pers #IndonesiaBikin Bangga, sorgum dikonsumsi sebagai pengganti nasi. Tekstur dan rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi. Cara dan durasi memasaknya mirip.

    Produk sorgum sekarang banyak ditemukan di toko-toko makanan kesehatan. Sumber makanan tersebut layak dikonsumsi oleh masyarakat yang harus mengkonsumsinya makanan nabati mendapatkan protein dan karbohidrat secara bersamaan.

    Ada banyak varietas sorgum yang kaya serat dan tumbuh subur di lahan kering NTT. Warnanya sangat beragam yaitu putih, coklat, kuning, merah, merah marun, hingga hitam, dengan tekstur yang berbeda-beda.

    Keberadaan sumber pangan ini tidak lepas dari budaya. Misalnya, Ende memiliki upacara khusus yang disebut Ngoa Lolo untuk sorgum. Jika sorgum tidak diawetkan, upacara itu tidak akan ada lagi.

    Tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk nasi, masyarakat sekitar telah menjadikannya sebagai sereal atau olahan tepung sorgum sebagai bahan kue. Selain biji-bijian, batang sorgum dapat digunakan sebagai gula sorgum, atau difermentasi menjadi kecap.

    Bahan makanan selanjutnya adalah jelai, yang biasanya disantap sebagai camilan. Jewawut biasanya dibuat seperti bubur jagung dengan rasa yang sedikit manis, bisa dinikmati pada pagi atau sore hari.

    Rasa jelai sebenarnya hambar, sehingga saat membuatnya terkadang diberi gula atau santan. Bubur dari jelai sering digunakan oleh masyarakat NTT untuk memulihkan kesehatan masyarakat yang baru saja melahirkan.

    Selain itu, NTT adalah surga kacang. Jika Anda datang ke Flores dan mengunjungi pasar tradisional, wisatawan akan menemukan banyak jenis kacang. Kacang dapat dicampur dengan sayuran, nasi, jagung, atau dibuat menjadi camilan.

    Beberapa jenisnya adalah kacang tanah dari Sumba dan kacang hijau dari Flores Timur. Ada berbagai macam kacang merah. Ada kacang merah Ende, Paleo, dan Flores Timur, dengan batik polos atau seperti.

    Masyarakat NTT biasanya menanam sorgum dan buncis dalam satu kebun. Meski luas lahan relatif kecil, kebutuhan karbohidrat dan protein keluarga tetap terpenuhi.

    Pendongeng kuliner Ade Putri mengatakan, tekstur tanah tempat kacang ditanam akan sangat mempengaruhi rasanya. Ia pernah mencoba kacang goreng batik yang berbeda warna dan rasanya dengan kacang goreng.

    Tidak berwarna coklat muda polos seperti kacang tanah, kacang batik menunjukkan bintik-bintik merah. Rasanya bahkan lebih manis. “Bukan karena bumbunya, tapi rasa asli dari biji batik itu sendiri,” kata Ade.

    Makanan lokal NTT lainnya adalah daun kelor yang kaya akan antioksidan. Vitamin C di dalamnya tujuh kali lebih tinggi dari jeruk, juga 15 kali lebih banyak potasium daripada pisang.

    Manajer Program Agroekosistem Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Renata Puji Sumedi Hangarawati mengatakan, masyarakat NTT sering mengonsumsi daun kelor.

    Daun kelor telah digunakan untuk memperbaiki kekurangan gizi pada anak-anak mengingat jumlah pengerdilan di Flores Timur yang cukup tinggi. Inisiatif ini diprakarsai oleh salah satu Puskesmas setempat.

    Petugas puskesmas memberikan tambahan makanan berupa sorgum dan kelor serta sayur-sayuran lainnya kepada balita gizi buruk. Program tiga bulan itu berhasil menaikkan berat badan anak.

    “Program tersebut kemudian diujicobakan di beberapa puskesmas lain, hingga kemudian dilakukan kampanye solor yaitu sorgum kelor. Ini bukti nyata bahwa pangan lokal mampu mengatasi pengerdilan dan gizi buruk,” kata Puji melalui keterangan resminya.



    https://www.republika.co.id/berita/qye701463/mengenal-ragam-bahan-pangan-lokal-unik-khas-ntt