Menguak Makna Masjid Kampung Hulu Melaka

Melaka pernah menjadi pusat penyebaran Islam di Nusantara.

REPUBLIKA.CO.ID, MELAKA – Tidak ada pengunjung Kota Bersejarah Melaka yang dapat melewatkan pesona arsitektur unik masjid yang dibangun pada abad ke-18 ini.

Kubah setengah bundar yang lebih dikenal dan umum digunakan pada masjid tampaknya belum menjadi patokan pembangunan masjid pada masa itu. Padahal, saat itu Melaka merupakan pusat penyebaran agama Islam di Nusantara yang kini dikenal dengan sebutan Asia Tenggara.

Sebaliknya, masjid tua ini memiliki atap piramidal bertingkat tiga, yang juga dikenal sebagai atap meru. Bangunannya juga memiliki menara berbentuk pagoda yang secara jelas mencerminkan unsur arsitektur Tionghoa.

Perpaduan budaya dalam arsitektur dikaitkan dengan pedagang yang berlayar ke Melaka, dari barat dan timur, termasuk Tiongkok. Saat itu, kawasan ini merupakan pusat perdagangan yang ramai.

Dilaporkan pada BernamaTiga masjid tertua di Melaka, yakni Masjid Kampung Hulu, Masjid Tengkera, dan Masjid Kampung Keling, menjadi bukti pengaruh arsitektur Tionghoa dalam pembangunan masjid saat itu.

Masjid ini menggunakan ubin keramik dari Dinasti Ching Cina. Ubin di Masjid Kampung Hulu, misalnya, menampilkan ukiran elemen alam.

Imam Masjid Kampung Hulu Zawawi Md Hanafi menuturkan, setiap lapisan atap masjid berusia 300 tahun. Struktur bangunan masjid ini memiliki makna tersendiri.

“Dari fondasi masjid hingga tingkat atas, setiap lapisan memiliki arti tersendiri, dengan ‘mahkota’ masjid menjadi elemen simbolis yang menandakan hubungan antara masjid dengan alam semesta dan Sang Pencipta,” kata 47- pria berusia tahun.

Dia mengatakan struktur bangunan dari setiap pintu menuju area sholat mencerminkan lima prinsip Islam. Sedangkan enam jendela masjid mencerminkan enam prinsip keimanan, sedangkan mimbar melambangkan keesaan Tuhan.

Zawawi mengatakan alas masjid persegi, atap meru tiga lantai dan empat pilar utama memberikan dukungan yang cukup untuk “mahkota” di atas strukturnya.

Masjid menghadap Kiblat, arah Ka’bah di Makkah. Tempat ibadah ini juga memiliki tempat di bagian belakang, sebagai lokasi jamaah untuk berwudhu.

“Hebatnya ubin keramik yang digunakan untuk membangun atap masjid adalah bisa bertahan beberapa ratus tahun dan masih kokoh,” kata Zawawi.

Sebagian besar bahan bangunan asli yang digunakan dalam pembangunan Masjid Kampung Hulu, seperti kayu berkualitas tinggi, kerang dan keong yang digunakan untuk membangun atap dan lantai terakota, kini sulit diperoleh untuk keperluan restorasi.

Lebih lanjut, dia mengatakan pekerjaan pemeliharaan dan restorasi masjid tua itu mahal. Manajemen harus mengacu pada Majelis Agama Islam Melaka dan Perusahaan Museum Melaka (Perzim), sebelum melakukan pemugaran.

Asisten kurator Perzim, Fairus Mamat, mengatakan pemerintah federal telah menetapkan tujuh masjid di Melaka sebagai masjid warisan di bawah Undang-Undang Warisan Nasional 2005.

Ketujuh masjid tersebut adalah Masjid Kampung Hulu (di pusat kota Melaka), Masjid Tengkera (di Tengkera), Masjid Kampung Keling (di kota Melaka), Masjid Old Machap (di Alor Gajah), dan Serkam Pantai Masjid (di Merlimau), Masjid An Nur. (di Bukit Peringgit) dan Masjid Laksamana Hang Tuah (di Duyong).

Fairus mengatakan 56 masjid lain di negara bagian itu juga telah ditetapkan sebagai masjid warisan di bawah Keputusan Restorasi Negara Melaka dan Konservasi Warisan Budaya. Sebagian besar masjid ini berusia lebih dari 50 tahun dan menampilkan desain arsitektur yang sama.

“Rezim berupaya mengembalikan warisan masjid untuk ditegaskan dalam peraturan negara, menggunakan bahan yang berkualitas asli, digunakan untuk mempertahankan tampilan aslinya agar bermanfaat bagi generasi mendatang,” katanya.

Adapun masjid yang dikukuhkan berdasarkan Undang-Undang Warisan Nasional, Perzim akan memantau secara ketat untuk memastikan bahwa masjid tersebut terpelihara dengan baik.

sumber: Bernama




Source