Mengunjungi Iran, PM Korea Selatan Membahas Pemblokiran Dana Minyak

    Bank-bank Korea Selatan memblokir setidaknya hingga $ 7 miliar uang Iran.

    REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Masa depan hubungan diplomatik kedua negara dipertaruhkan ketika Perdana Menteri (PM) Korea Selatan (Korsel) Chung Sye-kyun mengunjungi Iran selama tiga hari. Sejauh ini, bank-bank Korea Selatan telah memblokir setidaknya US $ 7 miliar uang Iran karena takut sanksi ekonomi AS sepihak terhadap Iran pada 2018.

    Pertemuan Chung dan Wakil Presiden Pertama Es’haq Jahangiri pada Minggu (11/4) membahas masalah pembekuan uang yang dibutuhkan Iran, yang juga bergelut di tengah Covid-19. Sebagian besar uang ini adalah hasil ekspor minyak Iran.

    “Saya ingin perjalanan saya ke Teheran mewakili keinginan kuat Korea Selatan untuk memajukan visinya menuju hubungan masa depan dengan Iran,” kata Chung dalam konferensi video. Al Jazeera, Minggu (11/4).

    Chung juga mengatakan pembicaraan nuklir di Wina berjalan dengan baik. Dia berharap Korea Selatan dan Iran harus bersiap untuk meningkatkan hubungan ketika sanksi AS dicabut.

    “Melalui kelompok kerja, perdagangan obat-obatan dan peralatan medis antara Iran dan Korea Selatan akan tumbuh subur. Saya berharap ini membantu rakyat Iran,” kata Chung.

    Beberapa hari sebelum pembicaraan dimulai, laporan mengatakan AS telah menawarkan untuk divestasi $ 1 miliar uang Iran di Korea Selatan. Tawaran itu diberikan dengan syarat Iran menghentikan 20 persen pengayaan uranium, tapi Teheran menolak.

    Selain itu, pejabat Iran berulang kali mengkritik Korea Selatan. Iran dituduh menyandera ketika merebut sebuah kapal Korea Selatan pada Januari karena pencemaran lingkungan di perairannya. Otoritas Iran membantah tuduhan tersebut dan menganggap Korea Selatan menyandera uang negara itu.

    Pada akhir Februari 2021, Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnasser Hemmati, mengumumkan bahwa Korea Selatan telah setuju untuk melepaskan sebagian dari uang tersebut. Uang yang telah disetujui untuk dikeluarkan mencapai 1 miliar dolar AS. Namun, Korea Selatan kemudian mengatakan uang itu hanya bisa dikeluarkan jika Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS mengeluarkan izin.




    Source