Menjaga BI Rate, Meminta Perbankan Optimal Turunkan SBDK

    Menurunkan SBDK dalam rangka meningkatkan bunga kredit dunia usaha.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan penurunan SBDK guna meningkatkan bunga kredit usaha. BI juga mengapresiasi bank yang telah menurunkan SBDK yang diperkirakan akan terus berlanjut.

    Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan suku bunga kebijakan moneter yang rendah dan likuiditas yang longgar telah mendorong penurunan suku bunga. Di pasar uang, likuiditas yang longgar dan penurunan BI7DRR sebesar 150 bps sejak 2020, mendorong rata-rata suku bunga PUAB O / N menjadi sekitar 2,79 persen selama Maret 2021.

    Di sektor perbankan, sejalan dengan penerapan kebijakan transparansi suku bunga, perbankan merespons dengan menurunkan SBDK per Februari 2021 sebesar 171 bps (yoy). Penurunan SBDK terutama terjadi pada kelompok bank pelat merah yang turun 266 bps (yoy) menjadi 8,70 persen.

    “Bank telah mengikuti kebijakan dengan menurunkan SBDK. Kami meminta perbankan untuk terus menurunkannya lagi,” ujarnya dalam jumpa pers di Rapat Dewan Gubernur BI, Selasa (20/4).

    Penurunan SBDK terjadi pada semua jenis kredit, dengan penurunan kredit mikro terdalam sebesar 346 bps (yoy), meskipun masih merupakan jenis kredit dengan SBDK tertinggi sebesar 12,72 persen. Sementara itu, penurunan SBDK yang terjadi pada jenis konsumsi KPR, konsumsi non KPR, korporasi dan kredit ritel masing-masing sebesar 194 bps, 193 bps, 139 bps dan 136 bps (yoy) menjadi 8,19 persen, 9,25 persen. 8,26 persen, dan 8,84 persen.

    Penurunan SBDK industri terjadi pada seluruh komponen yaitu Biaya Pokok Kredit (HPDK) sebesar 120 bps (yoy), diikuti oleh Beban Overhead (OHC) sebesar 31 bps (yoy), dan Biaya Overhead (OHC) sebesar 21 bps (yoy). Margin Keuntungan. Margin Laba Bank BUMN dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) turun sebesar 88 bps dan 34 bps (yoy), sedangkan Margin Laba Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) masih menunjukkan peningkatan dari 48 bps dan dua bps (yoy).

    Perry mengatakan, kebijakan transparansi suku bunga berdampak signifikan terhadap penurunan suku bunga dasar kredit. Sehingga dapat mendukung peningkatan pertumbuhan kredit dari perbankan. Begitu pula dengan kebijakan DP nol persen yang selama ini digunakan masyarakat.

    “Ada yang sudah melakukan ini, tapi ini memang preferensi bank. Terlihat kredit kendaraan dan perumahan mengalami peningkatan, terutama di segmen menengah ke atas,” ujarnya.




    Source