Menyambut Prestasi Olimpiade Lebih Baik di Paris

    Angkat besi dan panjat tebing bisa jadi harapan emas di Olimpiade Paris 2024.

    Oleh: Israr Itah, Jurnalis Republika.co.id

    REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Olimpiade Tokyo 2020, acara banyak acara Olahraga universal ini selesai pada Minggu (8/8), setelah melewati berbagai kendala akibat pandemi Covid-19. Setelah tertunda satu tahun, Olimpiade Tokyo diadakan di bawah protokol kesehatan yang ketat dan tanpa penonton.

    Bahkan, kondisi tidak normal ini tak menampik kemeriahan melihat para atlet dunia berlomba memberikan yang terbaik untuk naik podium tertinggi. Melalui layar kaca, ponsel, atau laptop, kita bisa melihat bagaimana persiapan Jepang yang matang membuahkan hasil. Tuan rumah, yang berada di peringkat enam Olimpiade Rio de Janeiro dengan 12 emas, 8 perak, dan 21 perunggu, kini melonjak ke peringkat ketiga dengan koleksi 27 emas, 14 perak, dan 17 perunggu.

    Jepang memukau dunia ketika tim basket putri mereka yang kalah besar dari lawannya mampu masuk final dengan kecepatan, determinasi, dan konsistensi permainan dari awal hingga akhir. Meski gagal mengatasi juara bertahan Amerika Serikat, aksi Rui Machida dkk mendapat pujian dari lawan-lawannya.

    Emas basket putri ini turut berperan mengantarkan AS sebagai juara umum. Setelah terus tertinggal dari China, AS meraih tambahan tiga emas di hari terakhir jelang penutupan Olimpiade Tokyo, Minggu (8/8).

    Perolehan medali AS adalah 39 emas, 41 perak dan 33 perunggu atau total 113 medali. AS sedikit unggul dari China yang mengoleksi 38 emas, 32 perak, dan 18 perunggu atau total 88 medali.

    Bagi kita orang Indonesia, momen mengharukan tentu saja ketika Windy Cantika Asiah menyumbangkan medali pertama dari angkat besi. Atau ketika Greysia Polii dan Apriyani Rahayu berjuang keras untuk merebut satu-satunya emas untuk Indonesia.

    Di Tokyo, Indonesia meraih satu emas, satu perak, dan tiga perunggu. Semuanya disumbangkan oleh atlet bulu tangkis dan angkat besi. Alhasil, Indonesia finis di posisi 55, turun dari posisi 46 di Rio. Saat itu di Brazil, Indonesia meraih satu emas dan dua perak. Posisi 55 ini jauh dari target masuk 40 besar.

    Padahal peluang meraih medali lebih terbuka. Namun, sejumlah atlet atau cabang olahraga yang semula diharapkan bisa meraih prestasi maksimal justru gagal bersinar.

    Angkat besi bisa lebih

    Itu mengingatkan saya sekitar sembilan tahun yang lalu bahwa saya diundang oleh sebuah stasiun TV untuk membahas prestasi olahraga Indonesia setelah Olimpiade 2012. Saat itu saya sempat berdiskusi dengan Eko Yuli Irawan dan pelatihnya Lukman. Di sana saya mendapatkan informasi tentang peta jalan dan biaya angkat besi untuk memenangkan Olimpiade. Saat itu, dibutuhkan atlet sekitar Rp. 15 juta per bulan, terutama untuk membeli suplemen yang membantu membangun dan menjaga kekuatan otot. Saat itu, Lukman meyakini emas Olimpiade bukanlah mimpi jika kebutuhan latihan atlet terpenuhi secara maksimal.

    Sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kekuatan otot-otot pengangkat. Sebab, angkat besi merupakan olahraga yang memaksa otot-otot tubuh untuk melakukan peregangan secara maksimal untuk mendapatkan daya angkat yang terbaik. Suplemen tubuh yang tepat dan terbaik membantu dengan itu.

    Persiapan lifter juga harus jauh-jauh hari. Tidak bisa satu atau dua tahun sebelum bersaing untuk atlet baru untuk berlatih. Semuanya direncanakan dengan matang, termasuk mengikuti kompetisi lain di luar negeri untuk mengukur kekuatan diri dan kompetitor. Lifter Indonesia umumnya unggul di kelas ringan, yang harus menjadi fokus pelatih PP PABSI.



    https://www.republika.co.id/berita/qxjw01348/menyongsong-prestasi-olimpiade-lebih-baik-di-paris