Milenial Diminta Ikuti Kampanye Sampah Elektronik

Pada tahun 2050 diperkirakan sampah elektronik global mencapai 120 juta ton.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG – Seiring kemajuan teknologi, banyak perusahaan berinovasi untuk mempermudah pekerjaan manusia. Mereka berlomba-lomba menciptakan berbagai macam peralatan seperti televisi, komputer dan handphone.

Namun, kemajuan tersebut justru berdampak pada kelestarian lingkungan. Produk tersebut pada akhirnya akan menjadi limbah elektronik (limbah elektronik), jika tidak ditangani dengan benar dan tepat.

Maka tak heran jika pada 2050 sampah elektronik global diprediksi mencapai 120 juta ton. Angka ini berdasarkan data dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengajak generasi milenial untuk peduli lingkungan, seperti membuang sampah elektronik (limbah elektronik) di tempat. Karena jika dibuang sembarangan akan berdampak pada kesehatan lingkungan.

“Kalau jumlah penduduknya 4 juta jiwa, kalau satu orang menghasilkan sampah setengah kilo per hari berarti di Kabupaten Tangerang ada 2000 ton sampah per hari. Ini pekerjaan rumah bukan hanya untuk pemerintah daerah, tapi juga untuk masyarakat. komunitas dan masyarakat, “kata Bupati Zaki, dalam webinar” Memulai Ide Terang Anda: Melestarikan Hari Bumi Melalui Kolaborasi Antargenerasi “dengan EwasteRJ, dalam siaran persnya, Selasa (27/4).

Menurutnya, saat ini pemerintah kabupaten (pemkab) hanya mampu mengelola 600 hingga 800 ton. Sampah elektronik lainnya, jika tidak dikelola, dapat berakhir di lahan kosong, sungai, dan irigasi.

Ia mengatakan, dulu ada sekelompok warga di Kabupaten Tangerang yang dipekerjakan untuk memilah sampah elektronik oleh swasta. Namun karena minimnya pengetahuan warga, pemilahan sampah elektronik akhirnya ditutup pada 2016.

Saat itu, warga diketahui membakar sampah elektronik di lokasi pemilahan. Akibatnya tidak hanya menimbulkan pencemaran udara, tetapi juga menimbulkan pencemaran air, pencemaran tanah dan berdampak pada kesehatan.

Zaki mengatakan, Pemerintah Kabupaten Tangerang kemudian terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar kejadian tersebut tidak terulang kembali. Upaya yang dilakukan yaitu dengan menggandeng seluruh elemen masyarakat, salah satunya komunitas EwasteRJ.

“Alhamdulillah setelah gerakan ini banyak yang mengajukan diri untuk berkiprah di Kabupaten Tangerang. Memilah sampah dan mengantarkannya ke drop box yang telah disediakan,” terangnya.

Dijelaskannya, sebelum bekerjasama dengan EwasteRJ, Pemerintah Kabupaten Tangerang juga memiliki gerakan peduli sampah yang dimulai dari sekolah. Gerakan tersebut dinamakan Reduce Waste Our Schools (Kurasaki), untuk mengurangi sampah di sekolah.

“Ke depan perlu ada gerakan bagaimana kita bisa meminimalisir penggunaan barang yang nantinya berubah menjadi sampah. Kita semua bergotong royong untuk memberikan edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.

“Sampah elektronik harus dikumpulkan dulu. Kemudian dibuang di tempat atau industri yang sudah memiliki sertifikat untuk mengelola sampah,” imbuhnya.

Selain itu, ia menjelaskan, pandemi Covid-19 juga turut menyumbang sampah, terutama plastik. Karena semakin banyak orang yang memesan secara online yang membutuhkan wadah atau wadah plastik.

“Dengan adanya pandemi Covid-19, masyarakat semakin sering melakukan pemesanan secara online.“ Sampah yang dihasilkan semakin banyak, karena ada kemasan seperti plastik, kotak, bahkan sterofoam, ”ujarnya.




Source