Miris, Dua Tahun Pasar Modern Brang Bara “Mangkrak”

Sumbawa Besar, Gaung NTB – Sungguh miris, pasar modern Brang Bara yang dibangun oleh Pemerintah Daerah dengan anggaran DAK senilai Rp 5,8 Miliar pada tahun anggaran 2018 lalu, justru dibiarkan tanpa aktivitas transaksi jual beli di dalamnya. Padahal sarana prasarana dan sejumlah fasilitas pendukung dalam keadaan lengkap. Kalaupun ada aktivitas perdagangan oleh sejumlah pedagang dilakukan dengan lebih memilih berjualan diluar pasar dengan memanfaatkan halaman pasar, sehingga disini menimbulkan pertanyaan besar ada masalah apa di pasar modern Brang Bara tersebut.

Kadiskoperindag Sumbawa Drs H Arif MSi dalam keterangan Persnya kepada Gaung NTB kemarin, sangat menyayangkan sikap pedagang yang sudah terdata namun tidak mau berjualan di dalam pasar tersebut.

“Mengenai bentuk luar maupun didalamnya itu termasuk letak tinggi lebar meja, ada kran air, lampu dan fasilitas lainnya, semua itu berdasarkan prototype pasar nasional yang dibuat desaiannya oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, jadi bukan kami yang bikin-bikin. Sebab semua pasar se Indonesia pada program yang sama itu bentuknya sama. Perihal ada orang yang kurang menarik dengan itu, ia meminta agar pahamilah bahwa inilah yang disebut dengan penataan dan modern itu, karena ini pasar modern bukan pasar tradisional yang kita jualan dengan tikar duduk diemper, nggak ! Sebab pasar ini dihajatkan menjadi pasar Standar Nasional Indonesia (SNI),” paparnya.

Nanti, lanjutnya, pemantauanyapun tidak dengan cara manual. Nanti pakai CCTV dan bahkan orang Pusat Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Direktorat Logistik dan Perdagangan itu sangat gampang mengamati dari jauh nantinya berdasarkan hubungan satelit (GPS).

Dikatakan, pasar modern Brang Bara itu juga dilakukan pengawasan kemeteorologian yang ada di pintu masuk, bagi barang ataupun pembeli yang keluar meragukan timbangan, takaran dan ukuran, maka dia dapat melakukan timbang, ukur dan meter ulang, sehingga penerapannya ketat dilakukan sesuai dengan kemeteorologi.

Haji Arif mengatakan, informasi yang diterima, pedagang tidak terbiasa dengan tinggi meja jualan yang ada, sehingga mereka meminta agar dapat ditata ulang sesuai dengan kebiasaan dan keinginan para pedagang. “Maka solusinya kedepan mengubah perilaku dan tingkah laku itu perlu dilakukan dengan bijak, jadi sejalan dengan perkembangan dan dinamika serta kemajuan zaman,” lontarnya.

“Kitapun harus adaptasi, yakni semula di Sumbawa ini belum ada pasar SNI, sekarang kita harus menuju ke pasar SNI dan tahapan itu dari sekarang harus dilakukan penataan. Itu tanda-tanda perwujudannya bisa dilihat pada sarana dan prasarana pasar modern Brang Bara itu. Lihat meja keramik bersih dan bisa dilap setiap saat, ada kran air dan penerangan lampu, menggunakan konstruksi baja, fasilitas IPAL, pintu terkunci dalam keadaan aman, bahkan pasar itu bisa dibuka dalam waktu 24 jam. Karena itu dengan dikembalikan urusan bidang pasar melalui restrukturisasi dan nomenklatur OPD, tentu akan dipecahkan permasalahannya, termasuk soal rencana pemindahan kembali para pedagang yang berada di pasar sementara Kerato menuju kelokasi pasar Seketeng Sumbawa yang baru,” paparnya.

“Kita perlu melakukan inventarisasi masalah, apa saja masalahnya kita pelajari, kita telaah dan analisis dan kita simpulkan untuk rencana tindakannya. Jadi di daerah ini orang sangat membutuhkan sarana pasar, darimana orang berjualan di luar dan di jalan tak karuan sehingga kita kosentrasikan mereka pada lokus tertentu. Kenapa demikian!?, supaya mudah ditata mudah diatur kemudian mobilitasnya juga itu lancar dan bagus,” terangnya. Pasar modern Brang Bara Sumbawa itu dibangun berdasarkan study kelayakan dan kajian yang matang, dan tidak mungkin dibangun kalau tidak ada gunanya.

“”Begitu pula untuk pasar TP Alas Barat sudah disiapkan penempatan bagi para pedagang dengan pengelola sepenuhnya diserahkan kepada KUD setempat. Namun karena ada Covid-19 sempat tertunda dan jika nanti sudah landai dan aman segera diaktifkan pasar tersebut,” katanya.
Haji Arief berharap, mudah-mudahan atas partisipasi dukungan dan kerjasama dari semua pihak, kita ingin meninggalkan kesan pasar itu kumuh. “Jadi mimpi kita bersama mari kita jadikan pasar itu pasar bersih,” papar Haji Arif. (Gad)