Muhammadiyah dan Tradisi Berpikir Ilmiah

Muhammadiyah merayakan hari jadinya yang ke 112 untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia

Oleh : Prof Haedar Nasir, Ketua Umum Muhammadiyah

REPUBLIKA.CO.ID, — Sejak berdirinya Muhammadiyah telah membangun tradisi pemikiran yang kuat dalam tajdid dan diksi progresif, Kiai Haji Ahmad Dahlan selain dikenal cerdas juga mempelopori penggunaan nalar ilmiah yang tinggi.

Muhammadiyah kemudian dikenal sebagai gerakan Islam reformis dan modern, yang di dalamnya tertanam pola pikir yang maju. Kiai Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah bahkan disebut sebagai pembaharu atau mujadid, yang pemikirannya menurut Nurcholish Madjid sudah melampaui zamannya.

Setiap warga, terutama kader dan pimpinan Muhammadiyah, penting untuk memperkuat dan mengembangkan tradisi pemikiran yang kokoh yang telah diletakkan oleh Muhammadiyah dan pendiri gerakan Islam ini.

Hal ini dimaksudkan untuk menghadapi perkembangan kehidupan dan tanah dakwah yang semakin kompleks serta kemajuan zaman di era modern abad 21 yang penuh tantangan.

Oleh karena itu, anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah di seluruh lingkungan termasuk badan amal usaha dituntut untuk terus mengembangkan kualitas pemikirannya agar gerakan Islam modern terbesar ini semakin maju dan mampu memberikan jawaban atas permasalahan zaman yang sedang dihadapi.

Meski tidak perlu grogi atau mudah terpesona dengan isu, wacana, dan tokoh yang muncul dari permukaan, mereka menawarkan cara berpikir yang “hebat” tetapi secara substansial tidak menawarkan pemikiran yang mendalam dan belum tentu sejalan dengan nalar Islam Muhammadiyah. .

Berpikir ke depan

Muhammadiyah sejak awal mempelopori gerakan berpikir maju. Istilah “kemajuan”, “maju”, “kemajuan”, dan “kemajuan” telah tertanam dalam gerakan Muhammadiyah.

Dalam Statuta pertama tahun 1912, kata “mempromosikan” dinyatakan dalam kalimat objektif Muhammadiyah, yaitu “…b. Memajukan urusan agama kepada anggotanya, yaitu memajukan urusan keislaman kepada seluruh anggota masyarakat.

Secara kelembagaan Muhammadiyah melahirkan berbagai upaya dakwah seperti tabligh, pendidikan, taman perpustakaan, PKU, dan sebagainya yang merupakan hasil pemikiran cerdas dalam pertemuan-pertemuan tahunan.

Kelahiran Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan kemudian ormas-ormas otonom lainnya juga merupakan buah dari pemikiran yang maju. Keterlibatan Aisyiyah dalam merintis Kongres Perempuan tahun 1928 dengan pidatonya merupakan bukti kemajuan pemikiran perempuan Muhammadiyah.

Pada tahun 1926 Muhammadiyah melahirkan Tarjih untuk membahas masalah agama sebagai bentuk ijtihad tingkat lanjut, bukan sebagai bentuk sangkar pemikiran seperti yang dituduhkan sementara oleh para pihak.

Pada tahun 1938 Muhammadiyah membahas lima masalah penting, yaitu tentang agama, ibadah, dunia, sabilullah, dan ijtihad sampai diputuskan Konferensi Tarjih pada tahun 1954-1955. Kemudian pada tahun 1990-an dan 2000-an, lahirlah Manhaj Tarjih sebagai standar sistem pemikiran dalam memutuskan urusan agama yang sebenarnya.

Tafsir Tematik dan Tafsir At-Tanwir adalah karya-karya Majelis Tarjih yang luar biasa kaya dengan menggunakan berbagai pendekatan. Lahirnya pendekatan bayani, burhani, dan irfani merupakan cara berpikir dan pandangan Muhammadiyah yang sangat maju melampaui yang lain, mungkin bagi sebagian pimpinan Muhammadiyah sendiri jarang dibaca dan diapresiasi.



https://www.republika.co.id/berita/qwkcgb440/muhammadiyah-dan-tradisi-berpikir-keilmuan