Muktamar NU dan Masa Depan Regenerasi Nahdliyin

    NU Yehuda butuh regenerasi jika ingin lebih sukses

    REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Idham Cholid, warga Nahdliyin, berdomisili di Wonosobo; Mantan Ketua PMII Jombang 1994-1996; Ketua PB PMII 1997-1998.

    Muktamar NU seharusnya sudah digelar satu tahun lalu. Namun mundur karena pandemi. Dan itu tidak terjadi di Ormas NU saja, ormas Islam lainnya juga terpaksa harus menunda kongresnya karena ancaman wabah Covid-19.

    Namun khusus untuk muktamar NU, kami sebagai warga Nahdilyin merasa kurang antusias. Apalagi dengan munculnya opini-opini yang mengemuka akhir-akhir ini yang justru berujung pada perebutan posisi Ketua Umum PBNU.

    Maaf, apakah posisi Ketua Umum (Tanfidziyyah) begitu vital sehingga Anda harus mengeluarkan banyak energi untuk memperdebatkannya? Bukankah NU merupakan jam’iyah yang “dikuasai” oleh pimpinan ulama, sehingga kewenangan ulamalah yang harus diutamakan. Ulama harus menjadi sumber inspirasi, bukan hanya diposisikan sebagai alat untuk melegitimasi kepentingan pencalonan!

    Tidak dapat disangkal bahwa suksesi kepemimpinan PBNU sangat penting. Jika ini yang dibicarakan, yang perlu kita renungkan adalah perlunya NU menyiapkan proses kaderisasi yang mapan. Tentu kita tidak ingin mengulang sejarah kepemimpinan almaghfurlah KH Idham Chalid yang sekian lama (1952-1984) akhirnya “dicabut” oleh kiai dan melahirkan konflik berkepanjangan.

    Gus Dur telah menjadi pintu yang sangat baik untuk regenerasi kepemimpinan. Tiga periode kepemimpinannya (1984-1999) telah berhasil mencetak kader-kader unggul dan mengubah wajah NU, bahkan di mata dunia internasional.

    Tiga periode kepemimpinan Gus Dur tidak dijadikan fikih. Apalagi konteks saat ini sudah jauh berbeda. Almarhum KH Hasyim Muzadi cukup dua kali memimpin NU (1999-2010).

    Sekarang, banyak generasi baru telah lahir. Kita semua tahu bahwa KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siradj, bahkan mereka yang kini menguasai NU (terutama jajaran Tanfidziyah) adalah murid-murid terbaik Gus Dur. Tentu saja mereka semua memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan dalam proses alih generasi.

    Jika saat ini nama Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) juga muncul, maka tidak tepat menyebut dirinya sebagai orang HMI, seolah-olah ia dipandang sebagai “anak tiri” di NU. Sebagai rumah besar, NU harus memberikan tempat yang sama bagi semua. Hal itu juga terbukti, dengan tampilnya Saifullah Yusuf, dan Helmy Faishal Zaini, misalnya, di jajaran inti PBNU. Semasa kuliah, mereka adalah kader HMI.

    Menurut saya, isu rivalitas antara PMII dan HMI tidak layak dibahas di NU. Terlalu kecil jika NU hanya membahas hal itu. Sama kecilnya jika NU hanya ditepi untuk kepentingan politik kekuasaan, apalagi kepentingan partai tertentu.

    Banyak agenda besar yang masih perlu mendapat perhatian. Bagaimana pemberdayaan jemaah NU yang konon mencapai 48 persen, berdasarkan survei LSI Denny JA tahun 2019. Artinya lebih dari 116 juta penduduk Indonesia teridentifikasi sebagai NU. Mayoritas dari mereka adalah pedagang kecil, petani, buruh, yang kehidupannya saat ini sangat miskin.

    Bukankah tujuan awal para pendiri NU untuk menyadarkan umat? Agenda pemberdayaan harus dikedepankan, karena Hadlratus-Syekh KH Hasyim Asy’ari bersama KH Wahab Hasbullah dan lain-lain ingin langsung memimpin Syirkatul ‘Inan (semacam Koperasi Pedagang) sebagai bagian dari gerakan Nahdlatut Tujjar pada tahun 1918.

    Jadi soal regenerasi yang harus diingat. Belum lagi melebarkan hal-hal sepele lainnya. Dan bagi saya tentang siapa yang akan menjadi Ketua Umum PBNU, dengan memakan ilmu ‘titen’ (mengingat, dalam bahasa Jawa) dengan melihat roda zaman: Gus Dur sebelum terpilih sebagai Ketua PBNU, sebelumnya adalah Katib Aam Syuriyah PBNU, serta KH Said Aqil Siradj”.

    Lantas bagaimana kali ini, siapa yang akan menjadi Ketua Umum PBNU dari sosok yang sebelumnya menduduki posisi Khatib Am? Apakah akan benar-benar demikian? Wallahu’alam.

    Kalisuren, 9 Oktober 2021



    https://www.republika.co.id/berita/r0qm3i385/muktamar-nu-dan-masa-depan-regenerasi-kaum-nahdliyin