Musibah atau Bencana Covid-19? | Republika Online

    Hukuman dan musibah adalah dua hal yang berbeda bagi seorang mukmin

    Oleh : Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH Nasaruddin Umar

    REPUBLIKA.CO.ID, — Kehadiran virus corona Covid-19 nyaris melumpuhkan aktivitas rutin umat manusia di kolom langit ini. Para negara adidaya yang memiliki kecanggihan dunia medis dan persenjataan super kuat seolah tak berdaya melawan makhluk supermikro ini. Belum selesai mereka menyelesaikan satu jenis virus, muncul lagi jenis virus baru.

    Akibatnya, anggaran negara yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan rakyat tersedot oleh penanganan Covid-19.

    Untuk apa, siapa, dan untuk apa makhluk Covid-19 ini? Apakah Covid-19 adalah hukuman atau bencana? Tidaklah cukup untuk menjawab pertanyaan ini hanya dengan satu disiplin ilmu. Apalagi jika ditambah dengan pertanyaan bagaimana dan dengan cara apa dan siapa yang paling bertanggung jawab mengatasi berbagai dampak Covid-19?

    Dalam perspektif Al-Qur’an, ada dua istilah, yaitu hukuman dan musibah. Hukuman adalah siksaan yang ditimpakan kepada para pendosa dan kemaksiatan yang melampaui batas dan biasanya ditimpakan kepada orang-orang kafir dan tidak ditimpakan kepada hamba-hamba Allah yang beriman, seperti banjir besar yang menenggelamkan umat Nabi Nuh, wabah penyakit yang membinasakan umat Islam. Nabi Saleh, gempa dahsyat yang menelan umat Nabi Luth, serangan burung Ababil yang membawa virus memusnahkan pasukan Ibrahim.

    Semua bencana ini hanya menimpa orang-orang kafir yang durhaka dan tidak menimpa orang-orang mukmin, meskipun orang-orang mukmin ada di tengah-tengah mereka.

    Sedangkan musibah adalah cobaan yang ditimpakan kepada hamba-hamba Allah, baik yang beriman maupun yang tidak beriman, orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berdosa, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

    ا ابَكُمْ ا “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah mengampuni sebagian besar (kesalahanmu).” (Surat As Syura 30). Begitu juga dalam ayat:

    الَّذِي لَقَ الْمَوْتَ الْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ لًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Surat Al Mulk 2).

    Bagi umat Islam, khususnya kami dari kalangan Ahlussunah waljamaah, kami meyakini bahwa virus corona Covid-19 bukanlah azab, melainkan bencana atas dasar dalil ‘aqli dan naqli.

    bukti ‘aqliMereka yang terjangkit virus ini bukan hanya orang-orang kafir dan atau pendosa, tetapi juga orang-orang yang beriman dan bertakwa. Siapapun yang ceroboh dan tidak mengindahkan protokol kesehatan berpotensi tertular.

    bukti naqliDiantaranya antara lain hadits Nabi yang menyebutkan tiga doa yang dimohonkan Nabi Muhammad (SAW) untuk umatnya, pertama, agar umatnya tidak ditimpa azab yang telah dijatuhkan kepada umat sebelumnya.

    Kedua, agar Islam terus berkembang hingga akhir zaman, dan ketiga, agar umatnya tidak saling bertentangan. Allah SWT mengabulkan doa-doa ini kecuali yang terakhir (HR Muslim & Turmudzi). Dari fakta tersebut dapat ditegaskan bahwa pandemi Covid-19 adalah bencana, bukan hukuman.

    Fungsi malapetaka dan malapetaka berbeda. Hukuman yang lebih berat adalah hukuman yang menyiksa orang-orang kafir dan melampaui batas. Hukuman itu adalah siksaan awal di dunia ini dan akan berlanjut di akhirat. Sedangkan fungsi musibah sebagaimana disebutkan dalam hadits adalah untuk mengajarkan dan membasuh dosa-dosa yang telah lalu.

    Doom selalu berkonotasi negatif, sedangkan bencana tidak selalu berkonotasi negatif. Padahal, bencana bisa berarti “surat cinta” (undangan dewi) Allah bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

    ا المُسْلِمَ، لَا لَا لَا لَا لَا الشَّوْكَةِ اكُهَا، لَّا اللَّهُ ا ايَاهُ.

    “Bukan ditimpa lelah, sakit kronis, gugup, sedih yang mendalam, kesusahan, kesusahan, hingga stres yang menghawatirkannya, tetapi semua itu dijadikan oleh Allah SWT sebagai pengampunan dosa.” (HR. Al Bukhari, At Turmudzi, dan Ahmad). Dalam hadits lain juga ditegaskan:

    ا ا اللَّهُ ا لَ لَهُ الْعُقُوبةَ الدُّنْيَا، ا ا اللَّه الشَّرَّ افِيَ الْقِيامةِ

    “Jika Allah berkehendak positif terhadap hamba-Nya, maka Dia akan mengutamakan siksaan terhadapnya di dunia. Dan jika Allah berkehendak negatif terhadap hamba-Nya, maka siksaan akibat dosa-dosanya ditunda hingga akhirat.” (HR Turmudzi dari Anas)

    Tentunya kita berharap pandemi Covid-19 yang menimpa umat manusia saat ini memiliki banyak pelajaran penting untuk dijadikan sebagai proses pembelajaran.pelajaran belajar) untuk melihat dan menjalani masa depan.

    sumber: Harian Republika



    https://www.republika.co.id/berita/qyd8az320/covid19-azab-atau-musibah