Nilai CT Rendah Pasien Konfirmasi Positif Tanpa Gejala Akan Isolasi di Rumah Sakit

Sumbawa Besar, Gaung NTB – Pasien konfirmasi positif Covid 19 tidak bergejala namun memiliki nilai Ct (cycle threshold) rendah berdasarkan hasil Swab PCR, akan di isolasi di Rumah Sakit. Demikian disampaikan Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Agung Riyadi, SKM MKes sebagai tim gugus tugas penanganan Covid 19 atas izin kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa sebagai juru bicara tim gugus tugas kepada Gaung NTB rabu (2/9).

Dijelaskan, CT Value adalah jumlah kemampuan imunitas dalam menanggulangi virus yang masuk ke dalam tubuh, karena rendah nilai CT sehingga mudah menularkan virus ke oranglain berbeda dengan nilai tinggi CT maka tidak mudah menularkan virus didalam tubuhnya.

Menurut Agung, semakin rendah nilai Ct, virus tersebut semakin tinggi. Semakin tinggi nilai Ct semakin rendah jumlah virusnya.

Selanjutnya, ada batasan nilai CT yakni dibawah 25 super sprider, 30 -25 inspeksius, dan 30 ke atas sudah baik.

“Biarpun tanpa gejala atau pasien terkonfirmasi positif sehat-sehat saja, tetapi ketika hasil swab nilai CT rendah tetap akan diisolasi di rumah sakit, dan hal itu sudah menjadi kebijakan tim gugus tugas pencegahan dan pengendalian Covid 19,” katanya.

Agung menyebutkan, rata-rata pasien terkonfirmasi yang dirawat lama di rumah sakit karena nilai CT rendah disamping jika ada penyakit komorbit (penyerta).

Lebih jauh, ia menanggapi pertanyaan warga terkait pasien terkonfirmasi positif kemudian meninggal di Batu Tering Moyo Hulu bahwa hasil test PCR cepat keluar hanya dalam waktu 50-60 menit berbeda dengan Swab PCR di laboratorium STP, karena ada alat pemeriksaan lebih cepat namanya PCM atau gen ekspert atau tes molekuler cepat di RSMA. Namun, alat itu hanya digunakan pada pasien atau hal-hal yang bersifat gawat darurat karena daya angkut alatnya sedikit. Hasil akurasi dari PCM sama dengan PCR serta sama-sama mendapat rekomendasi dari Kemenkes.

Perlu diketahui juga bahwa hasil rapid test berdasarkan buku pedoman perubahan kelima penatalaksanaan pada pencegahan dan pengendalian kasus Covid-19, Rapid dibuku pedoman baru tidak direkomendasi jika tidak dengan akurasi tinggi karena tidak bisa digunakan dalam penegakan diagnosa tetap dengan RD PCR mekanisme Swab.

Akan tetapi, Rapid hanya untuk menapis atau screning gejala. Di Sumbawa potensi lab swab tidak ada lagi yang bisa dijadikan jejaring selain STP, keberadaan lab STP sangat besar distribusinya dalam penegakan diagnosa. (Gks)

Tags: Covid-19